BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup luas di dunia. Di Indonesia GAKY dewa-sa ini menjadi masalah nasional, karena berkaitan dengan penurunan kualitas sumber daya manusia, yang akhirnya akan menghambat tujuan pembangunan nasional. Diperkirakan 140 juta IQ point hilang akibat kekurangan yodium, karena 42 juta penduduk hidup di daerah endemik, 10 juta diantaranya menderita gondok, 3,5 juta menderita GAKY lain, dan terdapat 9000 bayi kretin di daerah-daerah tersebut
Tingkat endemisitas GAKY di Indonesia (1998) tersebut melibatkan 334 (8,4%) kecamatan termasuk dalam endemic berat, 278 (7,0%) kecamatan termasuk endemik sedang, 1.167 (29,9%) termasuk endemik riingan dan 2.184 (54,7%) termasuk pada daerah yang tergolong tidak endemik. Pada awalnya, masalah GAKY hanya ditanggapi sebagai masalah gondok yang terjadi di daerah endemik (endemic goiter), yang kurang memberi tekanan pada dampak lain yang sebenarnya justru sangat merisaukan. Hal ini dapat dilihat dari spektrum yang luas seperti pada wanita hamil dapat menimbulkan abortus, sedangkan pada fetus dapat terjadi lahir mati, anomali kongenital, kematian angka perinatal dan bayi meningkat, terjadinya kretin neurologik, kretin miksedema, dan defek psikomotor. Dampak ini pada dasarnya melibatkan gangguan tumbuh kembang manusia sejak awal dalam perkembangan fisik maupun mental. Masa yang paling peka adalah masa pertumbuhan susunan saraf, masa pertumbuhan somatik, masa pertumbuhan linier yang terjadi pada masa kehamilan bagi seorang wanita. Dengan dampak yang luas tersebut, wajar bila pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang cukup besar dan serius pada masalah GAKY, mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh masa-lah ini diketahui secara langsung mempengaruhi penurunan kualitas sumber daya manusia (Soeharyo dkk, 2002).
Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah (Departemen Kesehatan dan Departemen yang terkait) dalam pencegahan kekurangan unsur yodium sudah lama dilakukan, tetapi belum memberikan hasil yang me-muaskan, walaupun jumlah daerah endemik sudah sangat menurun, danprevalensi yang semula 27,7% (1990) menjadi 9,8% (1998). Upaya yang dilakukan pemerintah di antaranya adalah upaya jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang (Soeharyo dkk, 2002).

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan praktikum Gizi Kesehatan Masyarakat berupa kunjungan ke tempat penelitian GAKI untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang GAKI.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui kasus penderita GAKI.
b. Untuk memperoleh pengetahuan tentang GAKI, penyebab dan akibatnya pada manusia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Iodium merupakan mineral yang termasuk unsur gizi esensial walaupun jumlahnya sangat sedikit di dalam tubuh, yaitu hanya 0,00004% dari berat tubuh atau sekitar 15-23 mg. Itulah sebabnya iodium sering disebut sebagai mineral mikro atau trace element. Manusia tidak dapat membuat unsur iodium dalam tubuhnya seperti ia membuat protein atau gula. Manusia harus mendapatkan iodium dari luar tubuhnya (secara alamiah), yakni melalui serapan dari iodium yang terkandung dalam makanan dan minuman (Siswono, 2003).
Kebutuhan tubuh akan iodium rata-rata mencapai 1-2 mikrogram per kilogram berat badan per hari. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi menganjurkan konsumsi iodium per hari berdasarkan kelompok umur. Sesungguhnya kebutuhan terhadap iodium sangat kecil, pada orang dewasa hanya 150 mikrogram (1 mikrogram = seperseribu miligram).
Iodium diperlukan tubuh terutama untuk sintesis hormon tiroksin, yaitu suatu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, kelenjar tiroid akan membesar untuk menangkap iodium, yang lebih banyak dari darah. Pembesaran kelenjar tiroid tersebutlah yang sehari-hari kita kenal sebagai penyakit gondok (Siswono, 2003).
Gangguan akibat kekurangan iodium (iodine deficiency disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid mengakibatkan timbul gondok, hipotiroid, kretin, gangguan reproduksi, kematian bayi dan keterbelakangan sosial.
Gondok adalah pembesaran kelenjar timid yang melebihi normal. Penduduk yang kekurangan iodium tidak dapat membuat cukup hormon tiroid. Untuk mencukupi kebutuhan hormon tiroid, kelenjar hipofisis membuat hormon yang disebut thyroid stimulating hormone (TSI-I) untuk merangsang kelenjar tiroid supaya lebih aktif menghasilkan hormon tiroid. Penambahan hormon TSH merupakan proses adaptasi yang normal, akan tetapi kondisi yang kronis mengakibatkan gondok. Penduduk yang menderita gondok menandakan bahwa mereka mengalami kekurangan iodium (Rusiawati dkk, 1993).
Hipotiroidi adalah kondisi di mana tubuh tidak memperoleh cukup hormon tiroid. Kondisi ini mengakibatkan penderita menjadi malas, mengantuk, kulit kering, tidal( tahan dingin dan konstipasi. Honnon tiroid berperan dalam proses pertumbuhan otak dan sistim saraf. Oleh karena itu anak penderita hipotiroidi mengalami hambatan dalam pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Keterbelakangan fisik dan mental yang berat mudah dikenal, akan tetapi seringkali kondisi ini ringan sehingga sulit diketahui kecuali, dengan diagnosis yang baik (Rusiawati dkk, 1993).
Kretin merupakan akibat yang lebih berat daripada hipotiroidi yang terjadi selama bayi masih dalam kandungan atau permulaan kelahiran. Kretin mengakibatkan keterbelakangan mental yang tidak dapat disembuhkan. Selain itu terdapat gejala seperti buta, tuli dan gangguan dalam pertumbuhan otot. Seperti kretin disertai gondok (Rusiawati dkk, 1993).
GAKI mengakibatkan kematian anak. Anak-anak yang menderita Gaki kurang memiliki daya tahan tubuh terhadap infeksi dan derajat nutrisinya lebih rendah. Ibu hamil yang memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih berat, sehat dan kemungkinan hidup lebih besar daripada ibu yang tidak memperoleh iodium. Ibu hamil yang memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih besar kemungkinannya mencapai umur 15 tahun daripada anak dari ibu yang tidak memperoleh iodium (Dunn & Van Der Haar 1990).
Di Indonesia gondok sudah dikenal sejak jaman dahulu melalui tulisan tertua yang terdapat pada prasasti di Bangli, Bali. Gondok dilaporkan sering ditemukan di pulau Jawa dan luar Jawa. Sebelum jaman kemerdekaan banyak penelitian yang mlaporkan gondok endemik di berbagai daerah baik di pulau jaw maupun di pulau Sumatera. Pada permulaaan tahun 1900 seorang dokter melaporkangondok endemik tinggi di Aceh. Pada ttahun 1922 dilaporkan bahwa pasien dari yang datang di poliklinik Alas Sumatera Utara 60% diantaranya menerita gondok. Di berbagai daerah dilaporkan gondok dengan prevalensi yang tinggi baik pada pria maupun wanita. Diantara anak-anak usia 1-12 tahun banyak yang menderita kretin.
Pemetaan gondok endemik pertama dilakukan oleh Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan pada tahun 1980-82 di 25 propinsi tidak termasuk DKI Jakarta dan Irian Jaya ( Papua). Prevalensi gondok endemik di banyak desa 80%, kretin lebih dari 10% dan di beberapa desa mencapai 15% merupakan angka yang tertinggi di dunia. Berdasar pemetaan ini diperkirakan 30 juta penduduk tinggal di daerah kekurangan iodium, l0 juta di antaranya menderita gondok, 750 kretin endemik dan 3,5 juta menderita Gaki lain.

BAB III
METODE PELAKSANAAN

A. WAKTU DAN TEMPAT
Kunjungan praktikum dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Mei 2010 di Balai Penelitian GAKI Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

B. CARA PENGAMBILAN DATA
Responden diambil secara insidental setelah penulis berada di tempat praktikum. Responden merupakan individu yang secara rutin melakukan pemeriksaan dan atau terapi di tempat tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam/ indept interview dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang ada pada kuisioner.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
 Identitas responden:
a. Nama : Astuti
b. Alamat : Tegal Sari, Candi Mulyo
c. Tgl Lahir/Umur : 24 Desember 1958/ 52 tahun
d. Berat Badan : 34 kg
e. Tinggi Badan : 145 cm
f. Pekerjaan : PNS
g. Jumlah Anggota Keluarga : 5 (1 suami, 4 anak)
h. Pengeluaran/bulan total : Rp. 2.000.000,- (pangan Rp. 800.000,- , non pangan Rp. 1.200.000,-)

 Hasil Palpasi : Grade 1 dengan tanda fisik yang tampak belum ada.
 Tes laboratorium : Tes urin normal (tidak menunjukkan adanya GAKI), sedangkan untuk tes darah belum dianalisis.
 Status kesehatan : Baik (tidak menderita penyakit lain).
 Riwayat keluarga :
No. Kriteria Ya Tidak
1 Ada anggota keluarga lain yang mengalami gejala GAKI V
2 Ada anggota keluarga yang mengalami lahir mati V
3 Ada anggota keluarga yang mengalami cacat bawaan V
4 Ada anggota keluarga yang mengalami keguguran V
5 Ada anggota keluarga yang mengalami keterbelakangan mental V
6 Ada anggota keluarga yang mengalami kretin V
TOTAL 0 6

 Tingkat pengetahuan :
No. Kriteria Ya Tidak Skor
1 Mengetahui tentang GAKI V 1
2 Mengetahui tanda-tanda GAKI V 0
3 Mengetahui penyebab GAKI V 0
4 Memakai yodium di rumah V 1
5 Mengetahui manfaat menggunakan garam beryodium V 1
6 Mengetahui kadar yodium dalam garam V 0
7 Mengetahui cara penyimpanan garam beryodium yang benar V 0
8 Mengetahui apa itu zat goitrogenik V 0
9 Mengetahui bahan makanan yang mengandung zat goitrogenik V 0
10 Mengetahui penanganan yang tepat untuk mengatasi GAKI V 0
TOTAL 3 7 3

 Tingkat konsumsi makanan kaya iodium dan zat gointrogenik:

Jarang mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan iodium namun sering sekali mengkonsumsi bahan yang mengamdung zat gointrogenik.

B. PEMBAHASAN
Responden merupakan warga Tegal Sari, Candi Mulyo Kabupaten Magelang dimana karakteristik daerahnya yang dekat dengan gunung berapi sehingga dimungkinkan kandungan zat iodium sangat rendah di daerah tersebut. Kurangnya kandungan iodium di daerah ini dapat menimbulkan adanya kasus GAKI. Berdasarkan hasil lab, responden dapat ditegakkan menderita GAKI yaitu gondok. Responden sudah masuk dalam grade 1, karena meskipun sudah dapat ditegakkan menderita gondok namun belum menunjukkan adanya tanda-tanda fisik seperti tonjolan pada leher/ kelenjar tiroid.
Responden pernah melakukann tes urin saat dilakukan pemantauan GAKI di instansi yang tempat responden bekerja. Namun hasil tes menunjukan tidak adanya kemungkinan responden mengalami GAKI dalam artian kondisi urin responden normal. Responden ditegakkan mengalami GAKI bukan berdasarkan tes urin ini. Sedangkan untuk tes darah, saat waktu dilakukannya wawancara dengan responden ini diketahui bahwa responden sudah melakukan tes darah namun sedang menunggu hasilnya.
Ditinjau dari riwayat keluarga tidak ditemukan adanya keluarga yang memiliki resiko atau gejala-gejala yang khas untuk mengalami GAKI, seperti lahir mati, cacat mental dan lain-lain. Namun jika dilihat dari tingkat pengetahuan, responden digolongkan menjadi pengetahuan rendah. Responden hanya sebatas mengetahui secara awam apa itu GAKI, tanpa mengetahui tanda atau gejala, penyebab maupun manfaat, takaran iodium pada makanan yang dianjurkan, serta cara penyimpanan garam iodium yang tepat. Selain itu responden juga tidak mengetahui apa itu zat goitrogenik, bahan makanan yang mengandung goitrogenik serta penangana yng tepat dalam menangani masalah GAKI. Dimungkinkan rendahnya pengetahuan responden terhadap GAKI, berpotensi menyebabkan responden mengalami GAKI.
Sedangkan ditinjau dari tingkat konsumsi makanan kaya iodium dan zat goitrogenik, responden sangat jarang mengkonsumsi bahan makanan yang banyak mengandung iodium. Berkebalikan dengan hal ini, responden sering sekali mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung zat goitrogenik seperti ubi kayu, ubi jalar, sawi, kacang tanah dll. Hal ini dimungkinkan karena selain responden bekerja sebagai PNS di suatu institusi, responden juga aktif dalam menanam tanaman kebun di halaman rumahnya. Sehingga hasil kebun tersebut sering dikonsumsi paling tidak 4 kali seminggu.
Di Indonesia, prevalensi gondok endemik yang tinggi pada umumnya dijumpai di sekitar lereng gunung berapi atau di daerah pegunungan. Iodium, merupakan unsur gizimikro yang sangat vital bagi kebutuhan manusia. Unsur ini demikian pentingnya, sehingga kecukupan setiap manusia akan unsur ini diupayakan oleh setiap negara dengan jalan memasukkan di dalam unsur makanan yang dikonsumsi setiap hari, yakni garam dapur. Apabila asupan yodium dalam makanan yang masuk dalam tubuh kurang memadai, maka pembentukan tiroksin akan terhambat. Tiroksin adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, sehingga apabila tiroksin yang dihasilkan sangat kurang, maka dampaknya adalah tidak ada hambatan pembentukan Thyroid Stimulating Hormone (TSH), sehingga produksi TSH akan berlebihan. TSH ini akan memacu kelenjar tiroid untuk mensekresi tiroglobulin ke dalam folikel-folikel.
Masukan yodium manusia berasal dari makanan dan minuman yang berasal dari alam sekitarnya. Kalau lahan di alam kurang tersedia yodium di tanah permukaan, maka semua tumbuhan dan air yang berada di daerah tersebut, kandungan yodi-um kurang. Sebagai contoh sumur di RS Dr Kariadi mengandung yodium 4,8-11 ug/L, air dari PDAM Semarang yang bersumber dari air gunung di Ungaran kadar yodiumnya 0,9 ug/L dan air dari mata air desa-desa endemik berat di Sengi Magelang mengandung yodium 0,2 ug/L.
Dampak GAKY pada dasarnya melibatkan gangguan tumbuh kembang manusia mulai sejak awal perkembangan fisik maupun mental. Masa yang paling peka adalah masa pertumbuhan susunan saraf, masa pertumbuhan linier dan masa kehamilan bagi wanita. Secara rinci menjelaskan bahwa dampak kekurangan yodium, di samping kretin endemik adalah (1) kemampuan mental dan psikomotor berkurang (2) angka kematian perinatal meningkat, demikian gangguan perkembangan fetal dan pasca lahir (3) hipotiroidisme neonatal banyak ditemukan di daerah dengan endemik berat (4) pada penduduk normal ditemukan hipotiroidisme klinis dan biokimiawi (5) di daerah gondok endemik kadar iodium air susu ibu lebih rendah dibandingkan dengan daerah non endemik (0,44 vs 10,02 ug/dl) (6) pada otak terlihat kalsifikasi ganglion basal, hipofisis membesar, tetapi arti klinik belum diketahui (7) terdapat minimal brain damage di daerah yang terkesan sudah iodine replete, dengan IQ point yang terlambat 10-15 point meskipun status tiroid sudah kembali normal (8) ada keterlambatan per-kembangan fisik anak, misalnya lambatnya meng-angkat kepala, tengkurep, berjalan, hiporefleksi, strabismus konvergen, hipotoni otot.
Gondok yang merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang terdapat dibagian depan leher merupakan reaksi atas kekurangan unsur yodium, walaupun secara individual, gondok dapat juga disebab-kan karena penyakit lain seperti radang, tumor, kanker dan sebagainya.
Akibat atau dampak yang dapat ditimbulkan oleh GAKI juga dapat dilihat dari tabel berikut.
Kelompok Rentan Dampak
Ibu hamil • Keguguran
Janin • Lahir mati
• Cacat bawaan
• Meningkatkan peningkatan perinatal
• Meningkatkan peningkatan bayi
• Kretin neurology
• Kretin myxedermatosa
• Cebol
• Kelainan fungsi psikomotor
Neonatus • Gondok neonatus
• Hipotyroid neonatus
Anak dan remaja • Gondok
• Gangguan pertumbuhan fungsi fisik dan mental
• Hipotyroid juvenille
Dewasa • Gondok dengan komplikasinya
• Hipotyroid
• Gangguan fungsi mental
• Iodine induced hypertiroid (IIH)

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Gangguan akibat kekurangan iodium (iodine deficiency disorder) atau GAKI adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Salah satu macam GAKI adalah penyakit gondok.
GAKI diakibatkan oleh kurang atau lebihnya asupan iodium.
B. SARAN
Banyaknya mahasiswa yang ikut dalam praktikum ini dan kurangnya asisten atau pemandu yang ada pada Pusat Penelitian GAKI, membuat proses pembelajaran kurang efisien.


DAFTAR PUSTAKA

Ardany, Pungky dan Achmad Surjono. Situasi Analisis Garam Iodium di Daerah Gondok Endemis. Laboratorium Penelitian Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. http://www.chnrl.net/publikasi/pdf/GARAM.pdf diakses tanggal 27 Mei 2010

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/14PenanggulanganGangguan085.pdf/14PenanggulanganGangguan085.html diakses tanggal 27 Mei 2010
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_014_penyakit_gondok.pdf diakses tanggal 27 Mei 2010
RAN KPP GAKY. 2004.Rencana Aksi Nasional Kesinambungan Program Penanggulangan GAKY http://www.gizi.net/gaky/exit%20gaky.pdf diakses tanggal 27 Mei 2010
Rusiawati, Yuyus dan Smengen Sutomo. 1993.Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta
Soeharyo H, Margawati A, Setyawan H and Djokomoeljanto. 2002. Aspek Sosio-Kultural Pada Program Penanggulangan GAKY. Jurnal GAKY Indonesia (Indonesian Journal of IDD). http://www.mediamedika.net/wp-content/uploads/2010/03/jurnal16.pdf diakses tanggal 27 Mei 2010

Laporan praktikum gizi GAKY Responses

Leave a Reply