BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
` Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memiliki dampak sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. GAKY meliputi pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroid, GAKY berpengaruh terhadap prestasi belajar anak usia sekolah dan, rendahnya produktivitas kerja. Pada wanita hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati, sampai cacat bawaan pada bayi yang lahir berupa gangguan perkembangan saraf, mental dan fisik yang disebut kretin. Di Indonesia saat ini sekitar 750 orang menderita kretin, 10 juta mengalami gondok dan 3,5 juta orang terjangkit gangguan bentuk lain. Survey pemetaan GAKY di Indonesia menunjukkan peningkatan masalah penderitaan kretin membengkak hingga tercatat sebanyak 290.000 orang (Arisman, 2004). Sumber utama yodium adalah makanan yang berasal dari laut yaitu garam, ikan, udang, dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber yodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak yodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak yodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandungan yodiumnya. (Almatsier, 2003). Upaya peningkatan kadar yodium dilaksanakan oleh pemerintah melalui fortifikasi pangan dan suplementasi. Upaya fortifikasi antara lain melakukan berbagai kegiatan untuk masyarakat yaitu, memantau kandungan yodium dalam garam, meningkatkan yodisasi garam, memantapkan peraturan–peraturan tentang garam beryodium, meningkatkan kualitas garam yang diproduksi petani dan petani penggarap, operasional riset tentang produksigaram pada area terbatas yang efektif dan menghasilkan garam yang berkualitas ( Depkes RI, 2007 ).
Proses pencucian dan pengeringan yang dilakukan di industri garam yang ada di Indonesia saat ini ternyata belum cukup mampu menghasilkan garam dengan kualitas yang baik sehingga kualitas yodiumnya rendah. Hal ini disebabkan oleh pencucian dan pengeringan yang dilakukan hanya bertujuan meningkatkan tampilan fisik garam (bersih dan kering), dan belum sampai pada cara penghilangan zat pengotor hidroskopis (senyawa – senyawa Ca dan Mg) dan zat – zat pereduksi pada garam. Berdasarkan survey yang telah dilakukan lebih dari 50% produksi garam konsumsi yang dihasilkan industri garam memiliki kualitas yodium yang rendah (Nelson saksono, 2002). Yodium dalam garam akan mudah hilang atau berkurang apabila dalam penyimpanan garam berada di tempat yang salah, yaitu apabila disimpan di tempat yang lembab, di dekat perapian dan disimpan diwadah dalam keadaan terbuka Upaya mempertahankan kualitas garam beryodium supaya tetap baik, dapat dilihat dari kualitas bahan baku yang digunakan, tempat penyimpanan dan lokasi penyimpanan garam. Hal ini dikarenakan sifat garam yang dapat menguap bila tidak disimpan secara benar. Garam beryodium dapat mengalami penguapan yang menyebabkan turunnya kadar yodium dalam garam (Depkes RI, 2007). Meskipun selama 10 tahun terakhir terdapat kemajuan dalam penanggulangan masalah gizi di Indonesia, tetapi apabila dibanding dengan beberapa negara Asean seperti Thailand, prevalensi berbagai masalah gizi khususnya gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Perlu dipertanyakan mengapa kita tertinggal dengan negara-negara tetangga. Salah satu sebab, menurut hemat saya adalah adanya perbedaan paradigma dalam kebijakan program gizi. Paradigma adalah model atau pola pikir menghadapi suatu hal atau masalah.
Paradigma baru bertitik tolak pada indikator kesehatan, dan kesejahteraan rakyat yaitu angka penyakit dan angka kematian bayi dan ibu melahirkan. Oleh karena menurut WHO (2000) 49 persen kematian bayi terkait dengan status gizi yang rendah, maka dapat dimengerti apabila pertumbuhan dan status gizi termasuk indikator kesejahteraan seperti ditrapkan di Thailand.
Paradigma baru menekankan pentingnya outcome daripada input. Persediaan pangan yang cukup (input) di masyarakat tidak menjamin setiap rumah tangga dan anggota memperoleh makanan yang cukup dan status gizinya baik. Banyak faktor lain yang dapat mengganggu proses terwujudnya outcome sesuai dengan yng diharapkan. Paradigma input sering melupakan faktor lain tersebut, diantaranya air bersih, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar.
B.Tujuan
1. Mengetahui manfaat penggunaan garam beryodium.
2. Mengetahui manifestasi gangguan akibat kekurangan yodium.
3. Mengetahui penyebab gangguan akibat kekurangan yodium.
C. Manfaat
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemberian garam beryodium.
2. Menambah pengetahuan tentang berbagai penyakit gangguan akibat kekurangan yodium.
3. Menambah pengetahuan berbagai penyebab gangguan akibat kekurangan yodium.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Iodium ditemukan pada tahun 1811 oleh Courtois. Iodium merupakan sebuah anion monovalen. Keadaannya dalam tubuh mamalia hanya sebagai hormon tiroid. Hormon-hormon ini sangat penting selama pembentukan embrio dan untuk mengatur kecepatan metabolis dan produksi kalori atau energi disemua kehidupan. Jumlah iodium yang terdapat dalam makanan sebanyak jumlah ioda dan untuk sebagian kecil secara kovalen mengikat asam amino. Iodium diserap sangat cepat oleh usus dan oleh kelenjar tiroid di gunakan untuk memproduksi hormon thyroid. Saluran ekskresi utama iodium adalah melalui saluran kencing (urin) dan cara ini merupakan indikator utama pengukuran jumlah pemasukan dan status iodium. Tingkat ekskresi (status iodium) yang rendah (25 – 20 ?g I/g creatin) menunjukan risiko kekurangan iodium dan bahkan tingkatan yang lebih rendah menunjukan risiko yang lebih berbahaya (Brody, 1999).
Dalam saluran pencernaan, iodium dalam bahan makanan dikonversikan menjadi Iodida yang mudah diserap dan ikut bergabung dengan pool-iodida intra/ekstraseluler. Iodium tersebut kemudian memasuki kelenjar tiroid untuk disimpan. Setelah mengalami peroksidasi akan melekat dengan residu tirosin dari tiroglobulin. Struktur cincin hidrofenil dari residu tirosin adalah iodinate ortho pada grup hidroksil dan berbentuk hormon dari kelenjar tiroid yang dapat dibebaskan (T3 dan T4) (Linder, 1992). Iodium adalah suatu bagian integral dari hormon tridothyronine tiroid (T3) dan thyroxin (T4). Hormon tiroid kebanyakan menggunakan, jika tidak semua, efeknya melalui pengendalian sintesis protein. Efek-efek tersebut adalah efek kalorigenik, kardiovaskular, metabolisme dan efek inhibitor pada pengeluaran thyrotropin oleh pituitary (Sauberlich, 1999). Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) adalah sekumpulan gejala atau kelainan yang ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan iodium secara terus menerus dalam waktu yang lama yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup (manusia dan hewan). Makin banyak tingkat kekurangan iodium yang dialami makin banyak komplikasi atau kelainan yang ditimbulkannya, meliputi pembesaran kelenjar tiroid dan berbagai stadium sampai timbul bisu-tuli dan gangguan mental akibat kretinisme. Kodyat (1996) mengatakan bahwa pada umumnya masalah ini lebih banyak terjadi di daerah pegunungan dimana makanan yang dikonsumsinya sangat tergantung dari produksi makanan yang berasal dari tanaman setempat yang tumbuh pada kondisi tanah dengan kadar iodium rendah. Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masalah yang serius mengingat dampaknya secara langsung mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitas manusia. Kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap masalah dampak defisiensi iodium adalah wanita usia subur (WUS) ; ibu hamil ; anak balita dan anak usia sekolah.1 Faktor – Faktor yang berhubungan dengan masalah GAKI antara lain : Faktor Defisiensi Iodium dan Iodium Excess1,7 Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKI. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya.
Hal ini dibuktikan oleh Marine dan Kimbell pada tahun 1921 dengan pemberian iodium pada anak usia sekolah di Akron (Ohio) dapat menurunkan gradasi pembesaran kelenjar tiroid. Temuan lain oleh Dunn dan Van der Haal di Desa Jixian, Propinsi Heilongjian (Cina) dimana pemberian iodium antara tahun 1978 dan 1986 dapat menurunkan prevalensi gondok secara drastis dari 80 % (1978) menjadi 4,5 % (1986). Iodium Excess terjadi apabila iodium yang dikonsumsi cukup besar secara terus menerus, seperti yang dialami oleh masyarakat di Hokaido (Jepang) yang mengkonsumsi ganggang laut dalam jumlah yang besar. Bila iodium dikonsumsi dalam dosis tinggi akan terjadi hambatan hormogenesis, khususnya iodinisasi tirosin.
Aspek klinik.pada GAKI
1. Gondok endemik.
Pada awalnya gondok endemik disama-artikan dengan GAKI, namun kini orang telah jelas memisahkannya sebab gondok hanya merupakan sebagian kecil saja dari spektrum GAKI. Penyebab gondok utama memang defisiensi yodium, tetapi sebab lain juga dikenal yaitu: goitrogen, kelebihan (excess) yodium, unsur mikro dan status nutrisi pada umumnya. Dengan memberikan yodium cukup memang prevalensi gondok kurang, namun tidak terlihatnya gondok tidak berarti GAKI telah tiada. Sekarang ini dianjurkan untuk memeriksa pembesaran tiroid dengan USG.
2. Kretin-endemik
Tiga syarat pokok dalam definisi kretin endemik9
Epidemiologi: berhubungan dengan gondok endemik dan defisiensi iodium derajat berat. Manifestasi klinik: terdapat retardasi mental, bersamaan dengan:
Sindroma neurologik yang predominan (biasa disebut kretin nervosa): defek pendengaran dan bicara, dan gangguan khas dalam sikap berdiri dan berjalan.
Hipotiroidi yang predominan, tubuh kerdil/cebol (biasa disebut kretin miksedematosa). Di beberapa wilayah jenis pertama yang menonjol, tapi di wilayah lain jenis yang kedua. Pada daerah-daerah lainnya terdapat tipe gabungan dari ke dua jenis di atas (kretin campuran). Pencegahan: pada daerah di mana sudah tercapai koreksi yang adekuat terhadap defisiensi iodium, kretin endemik tak akan lahir. Belum lama ini dipikirkan suatu konsep ke arah penyatuan patogenesis kretin endemik, yaitu bahwa sebenarnya semua jenis kretin endemik merujuk pada kretin nervosa. Sebab setelah dilakukan re-evaluasi terhadap kretin miksedematosa yang ada di Afrika tersebut di atas ternyata juga ditemukan kelainan neurologik yang identik dengan kretin nervosa. Hanya tanda-tanda gangguan neurologik yang timbul didominasi oleh gambaran hipotiroidi yang berat akibat defisiensi, serta kelebihan tiosianat yang menyebabkan atrofi kelenjar tiroid.9 Jadi bisa disimpulkan bahwa kretin endemik merupakan manifestasi kerusakan otak derajat berat akibat defisiensi I selama masa kehamilan. Kretin lahir dari ibu hamil dengan intake I yang sangat rendah yaitu umumnya pada daerah defisiensi I berat (UIE <>50 µU/ml angka meningkat menjadi berturut-turut 27 dan 49%. McMichael pada tahun 1980 menunjukkan , berdasarkan studi retrospektif maupun prospektif, bahwa ibu hipotiroid yang hamil meningkatkan risiko aborsi, IMR meningkat, retardasi mental dan kelainan kongenital.3,9 Yang paling banyak ditemukan, namun kurang disadari ialah cerebral hypothyroidism dimana gejala lain kurang mencolok, yang nampak hanya ‘letargi’ dan ‘apati’ yang terlihat di daerah endemi. Sebabnya ialah kekurangan tiroksin di otak , sebab sel otak mendapatkan T3 dari hasil perubahan di selnya dengan perantaraan deiodinase II bukan dari produksi kelenjar tiroid. Perbaikan nyata terlihat dengan pemberian hormon tiroid (thyroxin bukan triiodothyronin). Secara klinis perbaikan ini dapat diamati yaitu sejak masa pemberian yodium maka kegiatan fisik penduduk meningkat, dan sebagai konsekuensinya adalah meningkatnya penghasilan,sehingga kemakmuran bertambah.3,9,10
4.Kretin-subklinik
Istilah ini diperkenalkan oleh kelompok Cina yang melihat ada kelompok anak sekolah yang bodoh sekali namun tidak menunjukkan gejala dan tanda kretin klasik. Ia kemudian membagi kelompok ini menurut IQ-nya sebagai : amat berat (IQ:0-20), berat (IQ :20-35), sedang (IQ:35-50) dan ringan (IQ:50-75). IQ mereka ternyata membaik dengan pemberian yodium, tetapi kelompok subklinik ini juga menunjukkan gangguan ringan pada perkembangan psikomotor dan pendengaran. Pada waktu ini sudah jelas dari data epidemiologi yang dikumpulkan dari Indonesia dan Spanyol, bahwa defisiensi yodium meskipun ringan mempengaruhi perkembangan neuropsikologik populasi. Kalau berdasarkan definisi kretin endemik, maka kelompok ini masih dikelompokkan kretin endemik (tipe nervosa : retardasi mental, gangguan pendengaran serta psikomotor ).3,8,9
5.Gangguan Perkembangan saraf
Seringkali “gejala sendiri” tidak menuju ke arah diagnosis gejala kretin endemik klasik, misalnya cara berjalan (‘stance, gait’), sikap berdiri tertentu, flexi pada genu dan pinggul hingga badan menjorok ke depan, hampir menyerupai sindrom Parkinson. Pada fase awal perkembangan anak sebelum gejala lain muncul dengan jelas pasien sulit mengangkat kepala, kepala seperti “lunglai”.Dalam hal pendengaran, terkesan bahwa gangguan ini terjadi pada cochlea (sensorineural deafness) di mana jejas ini terjadi pada trimester kedua kehamilan. Observasi kretin endemik di Sengi menunjukkan bahwa gangguan pendengaran simetris pada nada tinggi dapat digunakan sebagai kriteria patognomonik untuk mendiagnosis seorang dengan kretin endemik tipe neurologik.3,9,10
.II.GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN IODIUM
Iodium dalam Masalah GAKI faktor Geografis dan Non Geografis menurut Djokomoeljanto (1994) bahwa GAKI sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu daerah, karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah pegunungan seperti pegunungan Himalaya, Alpen, Andes dan di Indonesia gondok sering dijumpai di pegunungan seperti Bukit Barisan Di Sumatera dan pegunungan Kapur Selatan. Kekurangan yodium dalam tubuh manusia disebabkan karena keadaan tanah, air dan bahan pangan kurang mengandung yodium. Suatu wilayah menjadi kekurangan yodium disebabkan lapisan humus tanah sebagai tempat menetapnya yodium sudah tidak ada, karena akibat erosi tanah secara terus menerus dan sering terjadi pembakaran hutan yang mengakibatkan yodium dalam tanah hilang
Daerah yang biasanya mendapat suplai makanannya dari daerah lain sebagai penghasil pangan, seperti daerah pegunungan yang notabenenya merupakan daerah yang miskin kadar iodium dalam air dan tanahnya. Dalam jangka waktu yang lama namun pasti daerah tersebut akan mengalami defisiensi iodium atau daerah endemik iodium.
Faktor Bahan Pangan Goiterogenik1,7. Kekurangan iodium merupakan penyebab utama terjadinya gondok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lain juga ikut berperan. Salah satunya adalah bahan pangan yang bersifat goiterogenik. Dari hasil riset yang dilakukan Williams pada tahun 1974 dikatakan bahwa zat goiterogenik dalam bahan makanan yang dimakan setiap hari akan menyebabkan zat iodium dalam tubuh tidak berguna, karena zat goiterogenik tersebut merintangi absorbsi dan metabolisme mineral iodium yang telah masuk ke dalam tubuh. Goiterogenik adalah zat yang dapat menghambat pengambilan zat iodium oleh kelenjar gondok, sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar menjadi rendah. Selain itu, zat goiterogenik dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik ke bentuk organik sehingga pembentukan hormon tiroksin terhambat. Menurut Chapman goitrogen alami ada dalam jenis pangan seperti kelompok Sianida (daun + umbi singkong , gaplek, gadung, rebung, daun ketela, kecipir, dan terung) ; kelompok Mimosin (pete cina dan lamtoro) ; kelompok Isothiosianat (daun pepaya) dan kelompok Asam (jeruk nipis, belimbing wuluh dan cuka). Faktor Zat Gizi Lain1,7. Defisiensi protein dapat berpengaruh terhadap berbagai tahap pembentukan hormon dari kelenjar thyroid terutama tahap transportasi hormon. Baik T3 maupun T4 terikat oleh protein dalam serum, hanya 0,3 % T4 dan 0,25 % T3 dalam keadaan bebas. Sehingga defisiensi protein akan menyebabkan tingginya T3 dan T4 bebas, dengan adanya mekanisme umpan balik pada TSH maka hormon dari kelenjar thyroid akhirnya menurun.
III.Diagnosis
1.Gondok Endemik
Klasifikasi gondok berdasarkan kelompokkan
Grade 0 : Tidak teraba
Grade 1 : Teraba dan terlihat hanya dengan kepala yang ditengadahkan
Grade 2 : Mudah terlihat, kepala posisi biasa
Grade 3 : Terlihat dari jarak tertentu
Karena perubahan gondok pada awalnya perlu diwaspadai, maka grading system, khususnya grade 1 dibagi lagi dalam 2 klas, yaitu
Grade 1a : Tidak teraba atau teraba tidak lebih besar daripada kelenjar tiroid normal.
Grade 1b : Jelas teraba dan membesar, tetapi pada umumnya tidak terlihat meskipun kepala ditengadahkan. Kelenjar tiroid tersebut ukurannya sama atau lebih besar dari falangs akhir ibu jari tangan pasien.
2.Kretin Endemik
(a) Kretin Tipe Nervosa
Gambaran yang tipikal dari kretin nervosa adalah sbb: Retardasi mental yang sangat berat: Gangguan pendengaran dan bisu-tuli. Sindroma paresis sistem piramidalis, khususnya tungkai bawah: hipertonia, klonus, refleks plantaris. Kadang-kadang disertai sindroma ekstrapiramidalis. Sikap berdiri dan cara berjalan khas, spastik dan ataksik. Pada kasus yang sangat berat bahkan tidak mampu berdiri.
Strabismus
(b) Kretin tipe miksedematosa
Ciri-ciri klinik kretin tipe ini adalah: Retardasi mental, namun derajatnya lebih ringan dibanding kretin nervosa. Tanda-tanda hipotiroidi klinik: Tubuh sangat pendek (cebol), miksedema, kulit kering, rambut jarang, perkembangan seksual terlambat. Juga terdapat gangguan neurologik seperti spastisitas tungkai bawah, refleks plantaris, dan gangguan gaya berjalan. Kretin jenis ini banyak terdapat di Republik Demokrat Kongo (RDK) sebab di sana ada faktor lain yang mempengaruhi, yaitu defisiensi selenium dan kelebihan (overload) tiosianat.
(c) Kretin tipe campuran
Gambaran kliniknya adalah gabungan dari ke dua tipe di atas, yaitu adanya retardasi mental, gangguan neuromotorik yang jelas, disertai tanda-tanda hipotiroidi klinik. Delong dalam studi di China mendeskripsi variasi temuan kliniknya menjadi 5 bentuk sindroma yaitu tipe tipikal (khas), postur talamik, autistik, serebeler, dan hipotonik. Tipe-tipe ini menggambarkan onset yang berbeda-beda dari defisiensi I selama kehamilan, serta berat ringannya defisiensi yang terjadi.
3.Hipotiroidism
Gangguan regulasi termal: hipotermia, sianosis perifer, ekstremitas dingin Gangguan gastrointestinal: gangguan makan, distensi abdomen, muntah, konstipasi. Gangguan neuromuskuler: hipotonia, letargi. Keterlambatan maturasi skeletal: fontanela dan sutura kranialis lebar, epifisis femoral distal tak tampak. Keterlambatan maturasi biokimiawi: ikterus. Setelah bayi berusia 3 bulan mulai tampak gambaran-gambaran kretin sporadik klasik. Suara tangisnya berat (nada rendah) dan parau, lidah membesar, hipoplasia hidung / nasoorbital, kulit kasar, kering dan dingin, hernia umbilikalis. Refleks tendon menurun, dan terlambat mencapai perkembangan sesuai umur yang diharapkan. Setelah umur 6 bulan, anak tampak ‘‘bodoh’’ karena retardasi mental. Pada kurun usia berikutnya, disamping pertumbuhan tinggi badan yang sangat terganggu (cebol), juga terdapat gangguan neurologik, khususnya berupa tanda-tanda disfungsi sere-beler. Misalnya timbul gangguan keseimbangan, tremor, past-pointing, disdiadokokinesis, dan disartri. Hal ini bisa dimengerti mengingat perkembangan serebelum terjadi sejak awal trimester ke 3 kehamilan sampai masa postnatal, di mana pada saat itu hormon tiroid janin gagal disekresi, padahal seharusnya sudah maksimal berfungsi sebab kontribusi hormon tiroid ibu sudah berkurang atau bahkan pada masa postnatal, tidak ada lagi.
4.Kretin Sub-klinik
Kretin subklinik bisa dipandang sebagai bentuk ringan dari kretin endemik tipe nervosa, karena adanya defisiensi mental serta gangguan neuromotorik,walaupun dalam derajat yang lebih ringan. Dengan mempelajari aspek klinik kretin endemik yang tidak berujud gambaran klinik tunggal (nervosa, miksedematosa, dan campuran), maka bisa dimengerti kalau bentuk yang ringan (subtle) mempunyai gambaran klinik yang samar, dan cenderung tidak khas. Wang et.al mengajukan 4 kriteria, yaitu retardasi mental subklinik (IQ 50-70), defek psikomotor ringan, gangguan pendengaran subklinik, perkembangan fisik (tinggi badan) agak kurang, dan hipotiroidi kimiawi.
Gangguan otak yang lebih ringan (minimal brain dysfunction) akibat defisiensi I semasa fetus, secara epidemiologik bisa dilihat pada populasi non-kretin di daerah defisiensi I berat dan sedang. Rangkuman dari hasil-hasil studi menunjukkan adanya defek pada kapasitas mental dan psikomotor, yang semuanya menggambarkan adanya kerusakan otak dalam derajat yang lebih ringan. Delange menyebutnya dengan istilah gangguan neuro-intelektual. Salah satu poin penting dari kasus-kasus ini adalah bahwa gangguan-gangguan tersebut ireversibel, mengingat hukum once and only opportunity dalam perkembangan otak. Berbagai gangguan perkembangan yang timbul adalah sbb:
• DQ rendah dan IQ rendah (bergeser ke kiri, dan rata-rata kehilangan 13.5 points)
• Gangguan dalam kemapuan visuo-spasial dan visuo-motorik
• Gangguan ketrampilan dan kecekatan tangan (manual dexterity)3,9
• Gangguan perseptual
• Gangguan pendengaran sensori-neural
• Gangguan motivasi dan konsentrasi
• Gangguan perkembangan bahasa
• Gangguan pemrosesan informasi di otak (central information processing)
BAB III
METODE PELAKSANAAN
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilasanakan pada hari Rabu, tanggal 20-21 Mei 2010 di Balai Pengobatan (BP) GAKY di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
B. Cara Pengambilan Data
Pengumpulan data dalam praktikum ini dilakukan dengan cara :
1. Observasi
Observasi yang dilakukan dalam kegiatan kunjungan ke BP GAKY adalah mengamati pengunjung dan pasien di Balai Pengobatan GAKY.
2. Wawancara
Wawancara yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah wawancara terhadap Ibu yang mengasuh seorang balita pederita GAKY yang mengunjungi Balai Pengobatan GAKY di Borobudur, Magelang. Wawancara dilakukan dengan mengacu pada pedoman wawancara yang sebelumnya telah dipelajari, dimana pedoman tersebut bentuknya adalah kuesioner lisan, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk menilai keadaan responden
3. Dokumentasi
Dokumentasi yang dilakukan dalam kegiatan pengamatan ini adalah dokumen atau catatan pengunjung yang disebut rekam medik pasien di Balai pengobatan GAKY.
C. Analisis Data
Data yang diperoleh dari wawancara ini akan diolah melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
a. Editing
Yaitu kegiatan untuk mengecek isian formulir atau kuesioner apakah jawaban yang ada dalam kuesioner lengkap (semua pertanyaan sudah terisi jawabannya), jelas (tulisan jawaban pertanyaan cukup jelas terbaca), relevan (jawaban sesuai dengan pertanyaan), dan konsisten (antara beberapa pertanyaan yang berkaitan, isi jawabannya relevan) (Hastono, 2001).
b. Coding
Yaitu kegiatan pemberian kode pada tiap data yang termasuk dalam kategori yang sama (Hasan, 2004).
c. Entry data
Yaitu kegiatan pemindahan data ke dalam komputer untuk diolah menggunakan program SPSS (Hastono, 2001).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Responden kami kali ini adalah anak kembar berusia 3 tahun, bernama Eva Nurlaela dan Evi Nurlaeli. Merupakan anak dari Bapak Pujio yang berprofesi sebagai petani dan Ibu Rondiah yang juga berprofesi sebagai petani. Mereka berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah. Dapat dilihat dari pendapatan keluarga ini per bulan hanya sebesar Rp. 300.000, dengan penghasilan tersebut mungkin keluarga ini kurang memperhatikan tentang pemenuhan kebutuhan gizi yang baik terutama pemenuhan kebutuhan yodium, sehingga terjadi Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Selain dikarenakan rendahnya status ekonomi dari keluarga responden kami, latar belakang pendidikan yang rendah dari kedua orang tua responden pun menjadi salah satu penyebab terjadinya GAKI. Kurangnya pengetahuan orang tua responden mengenai penyebab GAKI, mengakibatkan mereka kurang mampu dalam melakukan pencegahan-pencegahan terhadap terjadinya kasus GAKI dalam keluarga mereka.
Hasil dari kuisioner yang kami tanyakan pada orang tua responden, dia menjawab Ya sebanyak 6 artinya ibu dari penderita mempunyai pengetahuan yang baik tentang GAKI. Sehingga dampaknya akan berpengaruh baik pada tingginya tingkat kesembuhan anaknya karena ibunya selalu memperhatikan kesehatan anaknya khususnya pada penderita GAKI harus diperhatikan asupan makanan yang mengandung yodium yang cukup dan terapi pemulihan untuk penderita GAKI.
2. Pembahasan
GAKY di Indonesia dan Penanggulangannya
Kekurangan iodium biasa disebut dengan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) atau IDD (Iodine Deficiency Disorder), yaitu kumpulan gejala klinis sebagai dampak dari kekurangan iodium. Dulu hal ini banyak diderita pada penduduk di daerah dataran tinggi, namun kini juga ditemui di dataran rendah, pantai, kota besar, negara maju dan daerah yang semula dianggap bukan daerah endemik.
Hasil pemetaan GAKY Nasional tahun 1998 adalah 9,8%, yaitu 42 juta tinggal di daerah endemik, 10 juta menderita gondok; 75.000 menderita kretin; 3,5 juta menderita GAKY lainnya. Tiap tahun lahir 9.000 anak kretin baru. Hasil survey nasional tahun 2003 di Jateng, dari 35 kabupaten, 15 endemik. Tahun 2004, 15 kabupaen eks endemik, 8 endemik. 1 endemik berat (44,82%) adalah Temanggung, 1 endemik sedang (24,93%) adalah Wonosobo, 6 endemik ringan dan 7 kabupaten non-endemik.
Kabupaten Magelang adalah daerah yang mempunyai kasus gangguan akibat kekurangan yodium tertinggi di Indonesia. Sehingga didirikan Balai Penelitian GAKY (BP GAKY) di Magelang di bawah naungan pemerintah sebagai pusat penelitian, pencegahan dan pengendalian GAKY di Indonesia. Desa Sengi adalah desa di kabupaten Magelang yang mempunyai kasus GAKY tertinggi.
Program penanggulangan GAKY berskala nasional yang selam ini ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Program jangka pendek
Program yang dilakukan yaitu distribusi kapsul yodiol dengan sasaran kelompok rawan di daerah endemik sedang dan berat.
2. Program jangka panjang
Program jangka panjang yang digunakan adalah:
a. Yodisasi garam
b. Promosi Penganeka ragaman pangan dan menu gizi seimbang
c. Penurunan konsumsi pangan gaitrogenic
Kelemahan program berskala nasional:
1. Program direncanakan berdasarkan survey yang menggunakan indikator tunggal (TGR).
2. Data nasional tidak dapat digunakan untuk perencanaan di tingkat Kabupaten/Kota.
3. Pola pendekatan blanket approached/ tidak manusiawi membiarkan saja penderita GAKY.
4. Tidak efektif menurunkan prevalensi TGR pada tingkat endemik ringan.
Program penanggulangan GAKY era otonomi adalah promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Program-program tersebut meliputi:
1. Iodisasi garam: garam mengandung 30 – 80 ppm Iodium.
2. Suplementasi kapsul Iodium: 200 mg Iodium/Cps pada target sasaran tertentu di daerah endemik berat dan sedang.
3. KIE tentang dampak GAKY terhadap SDM, pentingnya garam beryodium, peran masyarakat dalam program penanggulangan GAKY (law inforcement and social enforcement).
4. Survailan GAKY, yaitu pemantauan berkala, deteksi dini dan intervensi menggunakan indikator garam beryodium, UIE kelompok rawan, gondok kelompok rawan, TSH neonatal (NHI).
5. Pencapaian delapan dari 10 indikator program penanggulangan GAKY lanjutan. 10 indikator program penanggulangan GAKY berkelanjutan:
1. Ada tim GAKY yang efektif tingkat kabupaten.
a) Beranggota lintas sector terkait dengan kesra-GAKY.
b) Ada pembagian tugas yang jelas
c) Ada jadwal pertemuan minimal 2 kali pertahun
d) Ada notulen pertemuan dan hasil-hasil keputusan yang meningkatkan kinerja program.
e) Laporan hasil kegiatan masing-masing anggota atau kelompok.
2. Bukti komitmen politis terhadap USI dan program.
Penanggulangan GAKY:
a. Ada alokasi dana setiap tahun untuk kegiatan terkait dengan PP. GAKY
b. Dipertanyakan dalam setiap pertemuan berkala membahas tentang program pembangunan.
c. Ada kegiatan yang terencana setiap tahun.
d. Ada laporan pertanggungjawaban pelaksanaan pemberitahuan dari eksekkutif ke legislative setiap tahun
3. Ditunjuk eksekutif yang bertanggungjawab terhadap program penanggulangan GAKY.
a. Orang yang berwibawa.
b. Konsentrasi dengan kesejahteraan masyarakat.
c. Cukup dikenal masyarakat.
d. Mau dan mampu menjadi koordinator kegiatan lintas sektoral.
4. Perda tentang garam beryodium.
a. Mengatur tentang peredaran garam beryodium.
b. Tersedia sana untuk pelaksanaan Perda.
c. Dasar sanksi hokum pelanggaran Perda.
5. Pelaksanaan surveilans GAKY dengan data laboratorium tentang garam dan UIE. Pemantauan berkala, deteksi dini dan intervensi terhadap status GAKY masyarakat terutama menggunakan indicator garam dan UIE.
6. Program penyuluhan masal, dan mobilisasi social tentang bahaya GAKY dan perlunya mengkonsumsi garam beryodium. Terjadwal secara berkala sesuai dengan kebutuhan daerah endemic sedang dan berat minimum sekali setahun. Kerahkan segala kemampuan untuk memudahkan penyampaian pesan.
7. Data berkala tentang garam dari tingkat produsen, perdagangan dan rumah tangga. Hasil pemantauan minimum satu kali/6 bulan, disajikan mulai dari cakupan kepala desa, Kecamatan hingga Kabupaten.
8. Data berkala tentang UIE kelompok rawan dengan sampling representative untuk daerah beresiko tinggi. Minimum 1 kali/2 tahun dari 300 bumil dalam Kecamatan TGR tertinggi.
9. Kerjasama dengan produsen garam beryodium untuk menjaga kualitas. Incognito selalu berkunjung ke produsen untuk mengecek kualitas garam. Pendekatan mulai dari persuasive hingga sanksi bila melanggar Perda.
10. Ada database dari pemantauan berkala tentang garam beryodium, UIE, jika TSH Neonatal yang selalu diumumkan pada masyarakat. Record tentang hasil surveilans dari waktu ke waktu minimal tahunan. Untuk menilai kemajuan program dengan membandingkan antar wilayah Kecamatan. Penghargaan bagi kecamatan yang berhasil mengiurangi angka penderita GAKY.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Gangguan akibat kekurangan iodium (iodine deficiency disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid mengakibatkan timbul gondok, hipotiroid, kretin, gangguan reproduksi, kematian bayi dan keterbelakangan mental.
2. Faktor – Faktor yang menyebabkan masalah GAKI secara umum, diantaranya ialah:
a. Faktor Defisiensi Iodium dan Iodium Excess
b. Faktor Geografis dan Non Geografis
c. Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
d. Faktor Zat Gizi Lain
3. Faktor – Faktor yang menyebabkan responden kami menderita GAKI, diantaranya ialah:
a. Faktor ekonomi yang rendah
b. Latar belakang pengetahuan yang rendah
4. Pencegahan dan Penanggulangan GAKY yaitu :
a. Penyuntikan depot lipiodol (iodium dalam minyak) intramuskular dengan dosis 2 ml.
b. Distribusi garam dapur yang difortifikasi dengan iodium (KJO3).
c. Suplementasi iodium pada binatang ternak.
5. Langkah-langkah pengobatan bagi penderita GAKI yang berobat di Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) adalah sebagai berikut:
a. Pendaftaran
b. Konsultasi
c. Terapi pengobatan: laser, gizi, psikologi, antropologi, dan fisioterapi (bagi penderita dengan gangguan motorik kasar)
B. Saran
1. Diharapkan adanya peran serta aktif masyarakat dalam menggunakan garam yodium.
2. Diharapkan adanya penyebaran informasi tentang pentingnya garam beryodium oleh tenaga kesehatan kapada masyarakat.
3. Peran aktif mahasiswa dalam pelaksanaan program yodiumnisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arisman. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC, Jakarta.

Hastono, S. P. 2001. Analisis Data. FKM UI, Jakarta.

Hasan, I. 2004. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Bumi Aksara, Jakarta

Gibney, M.J., dkk. 2008. Gizi Kesehatan Masyarakat. EGC, Jakarta.

Aritonang, I. 2000. Krisis Ekonomi : Akar Masalah Gizi. Media Pressindo. Yogyakarta.

Departemen Kesehatan (DepKes). 1996. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium dan Garam Beriodium. Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat: Jakarta.

Djokomoelyanto R. 1976. Monitoring Mendidik Pencegahan Endemik dan Kretin Endemik. Paper, F.K. UNDIP: Semarang.

Djokomoeljanto, R. 2002. Spektrum Klinik Gangguan Akibat Kekurangan Yodium dan Gondok Hingga Kretin Endemik. Jurnal GAKY Indonesia Vol. 3 (1), Desember.

Gibney, Michael J., dkk. 2004. Gizi Kesehatan Masyarakat. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta

Supariasa, I. D. N. ., B. Bakri dan I. Fajar. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta

Related Sites

Astronomi | Wangsajaya's Weblog

Astronomi | Wangsajaya's Weblog: TES SELEKSI OLIMPIADE ASTRONOMI TINGKAT KABUPATEN KOTA TAHUN 2010. 1. Salah satu tujuan awal hubble space telescope adalah menemukan nilai yang akurat dari konstanta ...

Sources : http://wangsajaya.wordpress.com/category/astronomi/

XGames Download jocuri torrent 2013 - Home page

XGames Download jocuri torrent 2013 - Home page:

Sources : http://gamestorrent.lkteam.ro/

Kumpulan Judul Contoh Skripsi Pendidikan | Contoh Skripsi ...

Kumpulan Judul Contoh Skripsi Pendidikan | Contoh Skripsi ...: skripsi pendidikan hard copy dan soft copy kode o 1, kode o 8 (pdf), dan kode o 7 (ms. word) akuntansi. analisis motivasi belajar akuntansi dan orientasi pasca lulus ...

Sources : http://contohskripsi.idtesis.com/kumpulan-judul-contoh-skripsi-pendidikan.html/

Bab I Pendahuluan Pengenalan Microsoft Access

Bab I Pendahuluan Pengenalan Microsoft Access: SMAN 3 Padmanaba Yogyakarta Teknologi Informasi dan Komunikasi 1 Bab I Pendahuluan Pengenalan Microsoft Access Definisi Microsoft Access adalah program pengolah ...

Sources : http://devyestu.files.wordpress.com/2010/06/bab-1.pdf

osn kebumian | Wangsajaya's Weblog

osn kebumian | Wangsajaya's Weblog: pemenang olimpiade sains nasional (osn) ix tahun 2010 sma/ma (emas) fisika 1 evan laksono smak ipeka tomang d. k. i. jakarta 77,00 emas 2 erwin wibowo smak bpk ...

Sources : http://wangsajaya.wordpress.com/category/osn-kebumian/

Laporan praktikum gaky di magelang Responses

Leave a Reply