BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian penyakit maupun gangguan kesehatan pada manusia, tidak terlepas dari peran faktor lingkungan. Hubungan interaktif antara manusia serta perilakunya dengan komponen lingkungan yang memiliki potensi bahaya penyakit, juga dikenal sebagai proses kejadian penyakit. Sedangkan proses kejadian penyakit satu dengan yang lain masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri. Dalam hal ini faktor lingkungan memegang peranan sangat penting.
Interaksi manusia dengan lingkungan telah menyebabkan kontak antara kuman dengan manusia. Sering terjadi kuman yang tinggal di tubuh host kemudian berpindah ke manusia karena manusia tidak mampu menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini tercermin dari tingginya kejadian penyakit berbasis lingkungan yang masih merupakan masalah kesehatan terbesar masyarakat Indonesia. Untuk mengurangi masalah kesehatan akibat penyakit-penyakit lingkungan adalah dengan merencanakan dan melaksanakan suatu manajemen penyakit yang berbasis wilayah (Depkes RI, 2002).
Manajemen penyakit mestinya tidak hanya dilakukan pada manusia atau sejumlah penduduk yang mengalami sesuatu penyakit. Manajemen demikian tidak akan menyelesaikan problem penyakit yang bersangkutan, karena hanya berupa pendekatan kuratif, yaitu penanganan pada tingkat hilir. Seharusnya dalam penanganan sesuatu penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular, manajemen penyakit yang paling tepat diterapkan adalah manajemen berbasis lingkungan. Mengingat faktor-faktor lingkungan sangat dominan dalam proses kejadian suatu penyakit, maka manajemen berbasis lingkungan harus dilibatkan dalam upaya-upaya pencegahan maupun pengendaliannya. Manajemen berbasis lingkungan untuk penanggulangan penyakit, dimulai dari tingkat hulu menuju hilir. Perhatian utama pada faktor penyebab, media transmisi, dengan memperhatikan faktor penduduk sebagai objek yang terjangkit atau terpajan, sebelum melakukan penanganan pada manusia yang menderita penyakit.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang diambil adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap timbulnya penyakit?
2. Bagaimana sistem manajemen penyakit lingkungan berbasis wilayah yang dilakukan dalam upaya untuk mengendalikan wabah?
3. Bagaimana penerapan manajemen penyakit lingkungan berbasis wilayah yang dilakukan dalam upaya untuk mengendalikan wabah penyakit malaria?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Manajemen Berbasis Wilayah
Manajemen penyakit dapat dilakukan dengan berdasar pada teori simpul. Teori simpul terdiri dari 4 simpul yaitu, simpul 1, simpul 2, simpul 3 dan simpul 4.
Simpul 1 atau sumber penyakit, merupakan titk yang secara konstan maupun sporadis berpotensi menular pada manusia. Prinsip penanggulangan yang utama tentu saja memberantas bibit penyakit, baik pada binatang maupun manusia, dengan berbagai upaya. Tanpa pemberantasan ini, potensi penularan tetap ada dan sewaktu-waktu akan menimbulkan masalah. Terhadap sumber penyakit yang berasal dari binatang, tentu saja dengan pemberantasan penyakit pada binatang tersebut, pemusnahan binatang yang bersangkutan jika dianggap perlu, sperti pada kasus flu burung, tetapi juga menghindarkan manusia dari kontak dengan binatang pembawa (Anies, 2006).
Apabila manajemen pada simpul 1 gagal dilakukan, atau tidak dapat dilakukan, atau tidak dapat dilakukan karena adanya keterbatasan-keterbatasan, seyogianya segara melaksanakan manajemen pada simpul 2, yaitu berupa pengendalian pada media penularan atau media transmisi. Media transmisi, sebenarnya tidak memiliki potensi penyakit, apabila media ini tidak mendapat muatan bibit penyakit. Manajemen pada simpul ini antara lain dapat berupa pengendalian nyamuk penular malaria, penular penyakit DBD dan lain-lain.
Manajemen pada simpul 3 pada hakekatnya adalah pengendalian proses pajanan pada komunitas. Upaya yang dapat dilakukann di sini dapat menyangkut teknologi, sosial budaya dan sebagainya.
Manajemen pada simpul 4 atau pengobatan pada penderita, merupakan upaya terakhir yang pada hakikatnya sebagai upaya terahir dari rangkaian teori simpul ini. Upaya yang dapat dilakukan pada simpul ini antara lain, berupa pengobatan pada kelainan fungsi maupun morfologi organ tubuh. Tujuan manajemen pada simpul ini tentu saja penyembuhan dari penyakit atau gangguan kesehatan yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang (Anies, 2006).

B. Penyakit Lingkungan
Lingkungan tidak mungkin mampu mendukung jumlah kehidupan yang tanpa batas dengan segala aktifitasnya. Karena itu, apabila lingkungan sudah tidak mampu lagi mendukung kehidupan manusia, manusia akan menuai berbagai kesulitan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berdampak pada kualitas daya dukung lingkungan, yang pada akhirnya akan merusak lingkungan itu sendiri. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihaan akan berdampak buruk pada manusia (Anies, 2006).
Menurut Depkes RI tahun 2002, beberapa penyakit yang timbul akibat lingkungan yang buruk seperti ISPA, TBC, diare, DBD, malaria, kecacingan dan penyakit kulit.

C. Pengendalian Wabah atau KLB
Wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin, karena dikhawatirkan akan meluas, baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut (Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2006).
Menurut PP 40, tahun 1991, Bab 1, Pasal 1 Ayat 7, KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur.
Penetapan wabah atau KLB, dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun, ledakan industri, atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas, memang tidak lazim disebut sebagai KLB, namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif, prediktif, dan akhirnya berupa pencegahan. Apabila kita mencermati proses kejadiannya, KLB merupakan kejadian proses awal, pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Misalnya, adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit, terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus, pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun, dan sebagainya (Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2006).
Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini, amat penting, tidak hanya mencegah terjadinya KLB, penanganan saat kejadian KLB dan pasca- KLB, informasi pra-KLB menjadi penting. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan (Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2006).
Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit, KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi, serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat.
Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan, dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat, yakni manajemen kasus dan manajemen public health (manajemen faktor risiko).

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Lingkungan Terhadap Timbulnya Penyakit
Pengaruh lingkungan dalam menimbulkan penyakit pada manusia, telah lama disadari. Bahkan telah lama diketahui pula bahwa peran lingkungan dalam meningkatkan derajat kesehatan sangat besar. Sebagaimana dikemukakan oleh Blum (1974) dalam Planning for Health, Development and Application of Social Change Theory, bahwa faktor lingkungan berperan sangat besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebaliknya, kondisi kesehatan masyarakat yang buruk, termasuk timbulnya berbagai penyakit menular, andil faktor lingkungan sangat besar. Memang tidak selalu lingkungan sebagai penyebab, melainkan juga sebagai penunjang, media transmisi maupun memperberat penyakit yang telah ada. Demikian juga yang dikemukakan oleh WHO (1986), bahwa setiap kegiatan, termasuk pembangunan di sektor apapun, wajib dilakukan kajian kesehatan lingkungan. Agaknya keyakinan bahwa lingkungan berperan penting dalam semua sektor atau bidang, telah disadari oleh organisasi kesehatan dunia ini (Anies, 2006).
Salah satu yang kurang disadari selama ini, adalah munculnya berbagai penyakit menular lingkungan yang sebelumnya tidak ada, atau muncul kembali penyakit yang semula telah reda. Sebagai contoh, flu burung yang semula tidak pernah dilaporkan di Indonesia tiba-tiba menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang pelik. Bahkan sesuatu penyakit menular semacam demam berdarah dengue yang merupakan siklus lima tahunan, tiba-tiba meledak setiap tahun (Anies, 2006).

B. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah
Manajemen penyakit berbasis wilayah harus dilakukan secara terpadu dan pelaksanaannya dilakukan mengacu kepada teori Simpul, yakni adanya keterpaduan antara pengendalian sumber penyakit, media transmisi, dan pengendalian factor resiko kependudukan serta penyembuhan kasus penyakit pada suatu wilayah komunitas tertentu.
Manajemen yang dapat dilakukan berdasarkan teori Simpul dapat dijelaskan sebagai berikut (Achmadi, 2008):
1. Manajemen Simpul 1 (Pengendalian pada sumber penyakit)
Pengendalian penyakit atau manajemen penyakit secara terpadu berbasis wilayah, dimulai dari pengendalian sumber penyakit. Pengendalian pada sumber penyakit merupakan upaya preventif promotif. Sumber penyakit menular dan penyakit tidak menular pada dasarnya dapat dibedakan.
Sumber penyakit menular yaitu penderita penyakit itu sendiri. Dengan melakukan pencarian kasus secara aktif dan menetapkan kasus (melakukan diagnosis secara cepat dan tepat terhadap kasus) serta pengobatan hingga sembuh, maka sumber penularan dapat dieliminasi bahkan dihilangkan. Manajemen kasus penyakit menular merupakan upaya promotif sekaligus preventif, karena mencegah agar tidak timbul penularan lebih lanjut dalam masyarakat. Untuk itu diperlukan petugas lapangan untuk membantu mencari dan mengobati kasus dengan baik secara proaktif, misalnya juru malaria desa dan juru kusta.
Sumber penyakit tidak menular yaitu sumber agent penyakit berupa bahan toksik, fisik seperti radiasi atau kebisingan. Misalnya, knalpot kendaraan bermotor secara terus-menerus mengeluarkan gas-gas toksik seperti Karbonmonoksida, SO2, NOx. Contoh lain yaitu cerobong asap, titik buangan limbah industry, titik buangan limbah rumah tangga, asap rokok dan lain-lain. Untuk menghilangkan potensi bahaya dari sumber tersebut maka beberapa teknik dapat ditempuh, misalnya dengan mengganti bahan bakar bensin menjadi bahan bakar gas. Memperbaiki proses mesin menjadi lebih efisien dan efektif, atau diberi alat penyaring bahan pencemar.
2. Manajemen Simpul 2 (Pengendalian pada media penularan/ wahana transmisi)
Manajemen Simpul 2 dilakukan jika manajemen Simpul 1 mengalami kegagalan. Manajemen simpul 2 dilakukan dengan mengendalikan agent penyakit melalui media transmisi, misalnya saja:
a. Pengendaliann vektor.
Pengendalian vektor merupakan salah satu cara mengendalikan penyakit yang ditularkan vektor penyakit, seperti nyamuk penular malaria, penular demam berdarah dan sebagainya.
b. Penyehatan makanan.
Penyehatan pangan merupakan upaya untuk melakukan pencegahan penularan penyakit melalui pangan, misalnya sanitasi makanan, proses pengolahan yang memenuhi standar kesehatan, penggunaan bahan-bahan yang tidak berpotensi bahaya penyakit (misalnya daging yang mengandung Bacillus anthracis).
c. Penyehatan air.
Penyehatan air identik dengan penyediaan air bersih bagi seluruh penduduk. Misalnya, air yang tercemar bakteri harus dimasak.
d. Pembersihan udara dalam ruangan.
Penyehatan udara dapat dilakukan denganc ara penyediaan air filter di ruangan yang penuh dengan asap rokok. Untuk membersihkan polusi udara di perkotaan dengan cara menanam pephonan, memperbanyak air mancur, telaga dan lain sebagainya.
e. Pada manusia pembawa penyakit (misalnya pengobatan, atau containment penderita).
Sedangkan penularan penyakit melalui manusia selain pengobatan pada manusia itu sendiri, juga diminta menggunakan alat pelindung diri, seperti masker pada penderita penyakit TBC agar tidak menularkan pada orang lain.
3. Manajemen Simpul 3 (Pengendalian proses pajanan/ kontak pada masyarakat)
Emisi sumber agent penyakit yang telah berada pada media transmisi (lingkungan) kemudian berinteraksi dengan penduduk atau masyarakat setempat. Intensitas hubungan interaktif antara media transmisi (lingkungan) dengan masyarakat tergantung pola perilaku individu atau kelompoknya, misalnya perilaku menghindar, perilaku sselalu mengkonsumsi air yang telah dimasak, hobi, pekerjaan, dan sebagainya.
Ada sederet upaya (termasuk upaya teknologi) untuk mencegah agar masyarakat tertentu tidak melakukan kontak dengan komponen yang memiliki potensi membahayakan kesehatan. Upaya yang telah dikenal antara lain upaya perbaikan PHBS, penggunaan alat pelindung diri, imunisasi dan kekebalan alamiah ketika terjadi wabah demam berdarah.
4. Manajemen Simpul 4 (Pengobatan penderita sakit/ manajemen kasus)
Pengobatan terhadap penderita kasus tersebut dikenal sebagai manajemen kasus atau penderita penyakit. Agent penyakit yanng masuk ke tubuh seseorang akan menngalami proses yang amat kompleks di dalam tubuh manusia tersebut. Tentu saja tubuh manusia dengan sistem pertahanannya tidak serta-merta menyerah begitu saja. Hal ini dikenal sebagai sistem pertahanan seluler maupun humoral. Untuk kasus penyakit lingkungan yang menular, mikroba yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui berbagai media transmisi tentu akan dicoba di-contain, ditahan dan dibunuh oleh sel-sel pertahanan tubuh manusia.
Sakit merupakan keadaan patologis pada individu maupun sekelompok orang berupa kelainan fungsi maupun morfologi. Untuk memastikan kondisi seseorang dinyatakan sakit, bis melalui pemeriksaan secara sederhana hingga pemeriksaan dengan alat teknologi tinggi. Kondisi gangguan penyakit merupakan kegagalan pengendalian faktor risiko pada simpul 1, 2, dan 3. Saat itulah diperlukan manajemen kasus penderita dengan baik dan tuntas, terutama untuk kasus penyakit menular. Kasus penyakit menular memerlukan pengobatan yang baik untuk mencegah timbulnya penularan. Sedangkan untuk penyakit yang tidak menular, upaya yang dilakukan adalah dengan menggunakan dukungan teknik diagnostik dan penentuan faktor risiko agar orang lain tidak menderita penyakit serupa.

Selain berdasarkan teori sampul, menurut Hamzah Hasyim dalam jurnalnya, menyebutkan bahwa manajemen penyakit lingkungan berbasis wilayah, dapat dilakukan melalui manajemen kasus (case management) dan manajemen kesehatan masyarakat (public health management).
1. Manajemen Kasus (case management)
Merupakan bagian penting dari manajemen penyakit infeksi baru maupun penyakit infeksi lama yang muncul kembali, penerapan teknik dan kemampuan diagnosis, pemeriksaan laboratorium, pengobatan, perawatan dan rehabilitasi serta pencegahan agar tidak menular kepada orang lain. Manajemen kasus yang berhasil, merupakan upaya pencegahan yang efektif agar penyakit tidak menyebar, dan tidak menjadi sumber penularan. Survailans kasus, yang dilakukan dengan baik, sampai menimbulkan ”aksi’, merupakan salah satu item penting yang perlu dilakukan. Surveilans terpadu adalah kegiatan pengumpulan data, baik faktor risiko maupun kejadian penyakit yang dilakukan secara simultan, sistematik, periodik, berkesinambungan dan terencana, yang diikuti oleh analisis data untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan (manajemen). Menurut The Centers for Disease Control (CDC), surveilans kesehatan masyarakat adalah: “the on going sistematic collection, analysis and interpretation of health data essential to the planning, implementation, and evaluation of public health practice, closely integrated with the timely disseminationof these data to those who need to know. The final link of the surveillance chain is the application of these data to prevention and control”.
Salah satu pengunaan perangkat lunak yang dapat mendukung upaya survailans kasus adalah ArcView GIS untuk menggambarkan pola incidence, pravalence penyakit, yang dapat dioverlay berdasarkan model faktor prediksi penemuan kasus baru. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) di bidang kesehatan bukan hanya pemanfaatan teknologi komputer (otomasi) di bidang SIG semata, namun harus lebih diarahkan kepada pembentukan informasi yang berkaitan dengan wilayah, pengembangan indikator, pengembangan teknologi manipulasi data dan analisis secara spasial. Pemanfaatan teknologi komputer akan sangat berperan dalam mempercepat proses analisa data geografik dengan volume lebih besar.
2. Manajemen Kesehatan Masyarakat (Public Health Management).
Manajemen penyakit berbasis lingkungan tidak bisa dilaksanakan secara sendiri. Oleh sebab itu, kemitraan dan Networking adalah salah satu kunci utama. Global Networking dilakukan antarnegara, misalnya ASEAN, ASEAN + 3 negara (Japan, China, Korea), networking Indonesia melalui NAMRU 2 dengan CDC Atlanta. Walaupun, terlepas dari “kinerja NAMRU 2, akhir ini mendapat sorotan hangat publik”, networking antara Indonesia dan Singapore begitu juga Malaysia ada kerja sama bilateral untuk menangani SARS. Komitmen international dalam Roll Back Malaria yang operasionalisasinya di Indonesia disepakati dengan Gebrak Malaria.
Sejak tahun 1997, diperkenalkan pendekatan Integrated Management Childhood Illness (IMCI) atau Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang sekaligus merupakan model tatalaksana kasus untuk berbagai penyakit anak, yaitu: ISPA, diare, malaria, campak, gizi kurang dan kecacingan. Dalam pola baru ini disamping digunakan cara klasifikasi gejala penyakit yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna, juga dipisahkan antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana penderita penyakit infeksi akut telinga dan tenggorok.

C. Penerapan sistem manajemen penyakit lingkungan berbasis wilayah dalam upaya penanggulangan wabah penyakit malaria.
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit protozoa, yakni Plasmodium, Sp, yang penularannya dilakukan oleh vektor nyamuk Anopheles, Sp. Dalam Manual Pemberantasan Penyakit Menular yang dieditori oleh James Chin, MD, MPH dan diterjemahkan oleh Dr. I Nyoman Kandun, MPH disebutkan bahwa ada empat jenis parasit malaria yang dapat menginfeksi manusia. Untuk membedakan keempat jenis parasit malaria tersebut diperlukan pemeriksaan laboratorium, oleh karena gejala klinis yang ditimbulkan oleh keempat jenis parasit malaria tersebut sama. Apalagi pola demam pada awal infeksi menyerupai pola demam penyakit yang disebabkan organisme lain (bakteri, virus, parasit lain). Bagi penderita yang tinggal di daerah endemis malaria, walaupun di dalam darahnya ditemukan parasit malaria, tidak berarti orang tersebut hanya menderita malaria. Dapat juga pada waktu yang bersamaan orang tersebut menderita penyakit lain (seperti demam kuning fase awal, demam Lassa, demam tifoid). Infeksi oleh plasmodium malaria yang paling serius adalah malaria falciparum (disebut juga tertiana maligna ICD-9 084.0; ICD-10 B50).
Berdasarkan teori simpul, maka didapatkan suatu distribusi faktor determinan munculnya penyakit malaria sebagai berikut:
• Simpul 1 (Sumber Penyakit). Sumber penyakit penyakit malaria adalah manusia yang di dalam tubuhnya mengandung gametosit Plasmodium. Hanya manusia menjadi reservoir terpenting untuk malaria. Primata secara alamiah terinfeksi berbagai jenis malaria termasuk P. knowlesi, P. brazilianum, P. inui, P. schwetzi dan P. simium yang dapat menginfeksi manusia di laboratorium percobaan, akan tetapi jarang terjadi penularan/transmisi secara alamiah.
• Simpul 2 (Media Perantara). Media perantara penyakit ini adalah nyamuk Anopheles betina.
• Simpul 3 (Perilaku Pemajanan). Perilaku pemajanan adalah jumlah kontak antara manusia dengan komponen lingkungan yang mengandung potensi penyakit. Nyamuk Anopheles memiliki waktu aktif setelah matahari terbenam hingga pagi hari saat matahari mulai muncul menerangi bumi. Waktu itulah waktu yang paling rentan dimana jumlah kontak antara manusia dan media perantara (nyamuk Anopheles) lebih besar. Kontak dapat terjadi jika populasi nyamuk di suatu wilayah sangat tinggi. Selain itu, kemampuan manusia untuk melindungi dirinya dari gigitan nyamuk juga mempengaruhi frekuensi kontak dengan nyamuk.
• Simpul 4 (penyakit/outcome). Seseorang dikatakan sakit malaria jika dengan diagnosa konfirmasi laboratorium dipastikan dengan ditemukannya parasit malaria pada sediaan darah. Pemeriksaan mikroskopis yang diulang setiap 12-24 jam mempunyai arti penting karena kepadatan Plasmodium falciparum pada darah tepi yang tidak tentu dan sering parasit tidak ditemukan dengan pemeriksaan sediaan darah tepi pada pasien yang baru terinfeksi malaria atau penderita yang dalam pengobatan malaria. Beberapa cara tes malaria sedang dalam uji coba. Tes dengan menggunakan dipstick mempunyai harapan yang paling baik, tes ini mendeteksi antigen yang beredar didalam darah. Walaupun sudah mendapat lisensi di beberapa negara di dunia akan tetapi di Amerika lisensi baru diberikan pada tahun 1999. Diagnosis dengan menggunakan metode PCR adalah yang paling sensitif, akan tetapi metode ini tidak selalu tersedia di laboratorium diagnosa malaria. Antibodi di dalam darah yang diperiksa dengan tes IFA atau tes lainnya, dapat muncul pada minggu pertama setelah terjadinya infeksi akan tetapi dapat bertahan lama sampai bertahun-tahun tetap beredar didalam darah. Pemeriksaan ini berguna untuk membuktikan riwayat infeksi malaria yang dialami sebelumnya dan tidak untuk mendiagnosa penyakit malaria yang sedang berlangsung

Setelah mengetahui uraian masing-masing determinan berdasarkan teori simpul, maka langkah manajemen dapat dimulai. Manajemen penyakit dapat dikembangkan dengan mengintervensi masing-masing simpul.
• Manajemen penyakit di simpul 1 dan 4. Penyakit malaria hanya memiliki manusia sebagai reservoirnya. Oleh karena itu, manajemen simpul 1 sama dengan manajemen simpul 4 (jika outputnya sakit. Akan tetapi, jika outputnya sembuh berarti simpul 4 tidak perlu diintervensi lagi). Agar nyamuk anopheles tidak menghisap darah yang mengandung gametosit dari penderita, maka agen harus dihilangkan dari penderita. Artinya, penderita harus mendapatkan perawatan total hingga ia benar-benar sembuh. Pengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria adalah dengan menggunakan chloroquine terhadap P. falciparum, P. vivax, P. malariae dan P. ovale yang masih sensitif terhadap obat tersebut dapat diberikan per oral (diminum) dengan jumlah dosis 25 mg chloroquine/kg berat badan diberikan lebih dari 3 hari, dosis 15 mg dapat diberikan pada hari pertama (10 mg/kg berat badan dosis awal dan 5 mg/kg berat badan 6 jam berikutnya; 600 mg dan 300 mg dosis untuk orang dewasa); hari kedua diberikan 5 mg/kg berat badan dan hari ketiga diberikan 5 mg/kg berat badan. Malaria vivax mungkin sudah resisten terhadap klorokuin, penderita yang sudah diberi pengobatan, diberi pengobatan ulang atau diberikan dosis tunggal mefloquine 25 mg/kg berat badan.
• Manajemen simpul 2. Simpul 2 diisi oleh vektor, yaitu nyamuk Anopheles, Sp. Oleh karena itu, langkah yang harus diambil adalah langkah pengendalian vektor. Langkah pengendalian vektor harus diambil karena penderita malaria yang diobati tidak akan sembuh pada saat dia pertama kali minum obat. Di dalam darahnya pasti masih terdapat gametosit-gametosit plasmodium yang potensial untuk menularkan penyakit. Langkah intervensi vektor yang dapat diambil di antaranya adalah eliminasi breeding site dan resting site.
• Manajemen simpul 3. Simpul 3 diisi oleh perilaku manusia yang mempengaruhi jumlah kontaknya dengan vektor. Oleh karena itu, langkah yang diambil di antaranya adalah bagaimana agar sumber bahaya (nyamuk) jauh dari manusia. Artinya, bagaimana mengecilkan risiko terjadinya kasus dengan menjauhkan/menghindarkan diri dari nyamuk. Langkah-langkah yang diambil di antaranya adalah penggunaan repellen di malam hari dan tidur dengan perlindungan kelambu.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Lingkungan memiliki andil dalam menimbulkan adanya penyakit. Bahkan menurut HL Blum, faktor lingkungan berperan sangat besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
2. Manajemen penyakit lingkungan berbasis wilayah dapat dilaksanakan dengan pendekatan teori simpul (simpul 1, 2, 3 dan 4). Juga dapat dilakukan dengan pendekatan manajemen kasus dan manajemen faktor risiko (manajemen kesehatan masyarakat).
3. Penerapan manajemen penyakit berbasis wilayah pada wabah malaria adalah untuk simpul 1 dan 4 dengan agen penyakit harus dihilangkan dari penderita dengan pemberian obat, untuk simpul 2 dengan pengendalian vektor, simpul 3 dengan mengecilkan risiko terjadinya kasus dengan menjauhkan/menghindarkan diri dari nyamuk.

B. SARAN
Hendaknya manajemen penyakitb lingkungan berbasis wilayah harus dilakukan secara sistematis, terencana, berdasar fakta (evidence based) serta terpadu. Masyarkat juga harus diberdayakan, memahami, serta diarahkan untuk mampu melindungi dirinya sendiri dari penyakit dan senantiasa menjaga dan meningkatkan kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U. F. 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta

Anies. 2006. Manajemen Berbasis Lingkungan Solusi Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Menular. Penerbit Elex Media Komputindo. Jakarta

Anies. 2007. Mengatasi Gangguan Kesehatan Masyarakat Akibat Radiasi Elektromagnetik dengan Manajemen Berbasis Lingkungan. Pidato Pengukuhan. Disampaikan pada Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar IKM FK Universitas Diponegoro 14 Juli 2007

Depkes RI. 2002. Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi. Jakarta

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. 2006. Laporan Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2006

Hasyim, Hamzah. 2008. Manajemen Penyakit Lingkungan Berbasis Wilayah (Application Management Environmental Disease Based of Spesific Area). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol. 11. No. 2

Related Sites

Abrar4lesson4tutorial4ever's Blog | HIDUPMU INDAH BILA KAU ...

Abrar4lesson4tutorial4ever's Blog | HIDUPMU INDAH BILA KAU ...: Kata Pengantar. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME,karena atas berkat rahmat dan hidayahnyalah kami selaku kelompok 12 dapat menyusun makalah yang ...

Sources : http://abrar4lesson4tutorial4ever.wordpress.com/

rhyerhiathy | Smile, Laugh and Be Happy. Keep Spirit and Calm

rhyerhiathy | Smile, Laugh and Be Happy. Keep Spirit and Calm: RUMAH SAKIT SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM Badan layanan umum adalah instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa ...

Sources : http://rhyerhiathy.wordpress.com/

.:: Bursa Kerja Kaltim ::.

.:: Bursa Kerja Kaltim ::.: CPNS 2014, update berkala (KALTIM) CPNS / ASN 2014 Daftar Pembukaan CPNS 2014 Pendaftaran CPNS Online melalui Portal.. » Read More. CPNS 2014

Sources : http://infokerja-kaltim.com/

RENCANA STRATEGIS DINAS KESEHATAN BINTAN TAHUN 2006-2010 ...

RENCANA STRATEGIS DINAS KESEHATAN BINTAN TAHUN 2006-2010 ...: Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana sebagai Satuan Perangkat Kerja Daerah yang bertanggung jawab dalam bidang pembangunan kesehatan di Kabupaten Bintan ...

Sources : http://muslimpinang.wordpress.com/2008/08/14/55/

gudang makalah, skripsi dan tesis: skripsi kesehatan ...

gudang makalah, skripsi dan tesis: skripsi kesehatan ...: Download makalah, skripsi, PTK, tesis? disini tempatnya.. ... A. Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) sampai saat ...

Sources : http://gudangmakalah.blogspot.com/search/label/skripsi%20kesehatan%20masyarakat

makalah manajemen penyakit lingkungan berbasis wilayah dalam upaya penanggulangan WABAH Responses

Leave a Reply