I.PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya.
Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah di pulas. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis (Kadarsan, 1983).
Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya (Gandahusada.dkk, 2000).
Pemeriksaan feces dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus.
Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan. Misalnya, infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Infeksi ini lebih bamyak ditemukan pada anak-anak yang sering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih mudah terinfeksi oleh cacain-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga lebih mudah terjadi penularan. Pengalaman dalam hal membedakan sifat berbagai spesies parasit , kista, telur, larva, dan juga pengetahuan tentang bentuk pseudoparasit dan artefak yang dikira parasit, sangat dibutuhkan dalam pengidentifikasian suatu parasit.
B.TUJUAN

  1. Mendiagnosa adanya infeksi cacing parasit pada orang yang diperiksa fecesnya.
  2. Mengetahui tingkat infeksi cacing yang diderita orang yang diperiksa pecesnya.
  3. Mengetahui teknik pemeriksaan telur pada tinja anak-anak.
  4. Mengetahui bentuk-bentuk dari cacing parasit, bentuk telur maupun larva agar kita mudah untuk mengenali dan melakukan tindakan efektif baik untuk pencegahan maupun pengobatan terhadap infeksi caing parasit kepada pasien yang diperiksa.
II. TELAAH PUSTAKA
A.MACAM-MACAM METODA PEMERIKSAAN FESES
Penularan penyakit parasit disebabkan oleh tiga faktor yaitu sumber infeksi, cara penularan dan adanya hospes yang ditulari. Efek gabungan dari faktor ini menentukan penyebaran dan menetapnya parasit pada waktu dan tempat tertentu. Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat bersifat menahun disertai dengan sedikit atau tanpa gejala. (Noble, 1961).
Pemeriksaan telur-telur cacing dari tinja terdiri dari dua macam cara pemeriksaan, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode natif, metode apung, dan metode harada mori. Sedangkan pemeriksaan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode kato.

  1. 1. Pemeriksaan Kualitatif
Metode Natif
Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya.
Maksud : Menemukan telur cacing parasit pada feces yang diperiksa.
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit pada seseorang yang diperiksa fecesnya.
Dasar teori : eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang berwarna kekuning-kuningan dan untuk lebih jelas memisahkan feces dengan kotoran yang ada.
Kekurangan : dilakukan hanya untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit terditeksi.
Kelebihan : mudah dan cepat dalam pemeriksaan telur cacing semua spesies, biaya yang di perlukan sedikit, peralatan yang di gunakan sedikit.
Metode Apung (Flotation method)
Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.
Maksud : Mengetahui adanya telur cacing parasit usus untuk infeksi ringan.
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus pada seseorang yang diperiksa fecesnya.
Dasar teori : Berat jenis NaCl jenuh lebih berat dari berat jenis telur.
Kekurangan : penggunaan feses banyak dan memerlukan waktu yang lama, perlu ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi
Kelebihan : dapat di gunakan untuk infeksi ringan dan berat, telur dapat terlihat jelas.
Metode Harada Mori
Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknin ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik.
Maksud : Mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus spatau mencari larva cacing-cacing parasit usus yang menetas diluar tubuh hospes
Tujuan : Mengetahuia adanya infeksi cacing tambang
Dasar teori : Hanya cacing-cacing yang menetas di luar tubuh hospes akan menetas 7 hari menjadi larva dengan kelembaban yang cukup.
Kekurangan : Dilakukan hanya untuk identifikasi infeksi cacing tambang, waktu yang dibutuhkan lama dan memerlukan peralatan yang banyak.
Kelebihan : lebih mudah dilakukan karena hanya umtuk mengidentifikasi larva infektif mengingat bentuik larva jauh lebih besar di bandingkan dengan telur.

  1. 2. Pemeriksaan Kuantitatif
  • Metode Kato
Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong “cellahane tape”. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa.
Maksud : Menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur
Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit dan untuk mengetahui berat ringannya infeksi cacing parasit usus
Dasar teori : Dengan penambahan melachite green untuk memberi latar belakang hijau. Anak-anak mengeluarkan tinja kurang lebih 100 gram/hari, dewasa mengeluarkan tinja kurang lebih 150 gram/hari. Jadi, misalnya dalam 1 gram feces mengandung 100 telur maka 150 gram tinja mengandung 150.000 telur.
Kekurangan : Bahan feses yang di gunakan banyak.
Kelebihan : Dapat mengidentifikasi tingkat cacing pada penderita berdasar jumlah telur dan cacing, baik di kerjakan di lapangan, dapat digunakan untuk pemeriksaan tinja masal karena murah dan sederhana, cukup jelas untuk melihat morfologi sehingga dapat di diagnosis.
III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya.
Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BD (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.
Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma Duodenale, Necator Americanus, Srongyloides Stercolaris dan Trichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknin ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik.
Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik Kato. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong “cellahane tape”. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa.

  1. B. METODE
1.Metode Natif

  • Alat
  • Bahan
  1. Gelas obyek
  2. Pipet tetes
  3. Lidi
  4. Cover glass
  5. Mikroskop
  1. Tinja anak kecil
  2. Eosin 2%
  • Cara kerja :
  1. Gelas obyek yang bersih di teteskan 1-2 tetes NaCl fisiologi atau eosin 2%
  2. Dengan lidi, di ambil sedikit tinja dan taruh pada larutan tersebut
  3. Dengan lidi tadi, kita ratakan /larutkan, kemudian di tutup dengan gelas beda/cover glass.
2. Metode Apung

  • Alat
  • Bahan
  1. Obyek glass
  2. Mikroskop
  3. Cover glass
  4. Penyaring teh
  5. Tabung reaksi
  6. Pengaduk dan beker glass
  1. Tinja
  2. Larutan NaCl jenuh (33%)
  3. Aquades
  • Cara kerja
  1. 10 gram tinja di campur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%), kemudian di aduk sehingga larut. Bila terdapat serat-serat selulosa di saring menggunakan penyaring teh.
  2. Di diamkan selama 5-10 menit, kemudian dengan lidi di ambil larutan permukaan dan di taruh di atas gelas obyek, kemudian di tutup dengan cover glass. Di periksa di bawah mikroskop.
  3. Di tuangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan permukaan tabung, didiamkan selama 5-10 menit dan di tutup/di letakkan gelas obyek dan segera angkat. Selanjutnya di letakkan di atas gelas preparat dengan cairan berada di antara gelas preparat dan gelas penutup, kemudian di periksadi bawah mikroskop.
3. Metode Harada Mori

  • Alat
  1. Kantong plastik ukuran 30x200mm
  2. Kertas saring ukuran 3x15cm
  3. Lidi bambu
  4. Penjepit
  5. Mikroskop
  • Bahan
? Tinja
? Aquades steril

  • Cara kerja
  1. Plastik di isi aquades steril kurang lebih 5ml.
  2. Dengan lidi bambu, tinja di oleskan pada kertas saring sampai mengisi sepertiga bagiannya tengahnya.
  3. Kertas saring di masukkan ke dalam plastik tersebut diatas. Cara memasukkan kertas saring dilipat membujur dengan ujung kertas menyentuh permukaan aquades dan tinja jangan sampai terkena aquades.
  4. Nama penderita, tangggal penamaan, tempat penderita, dan nama mahasiswa. Tabung di tutup plastik/dijepret.
  5. Simpan selama 3-7 hari.
  6. Disentrifuge dan dimbil dengan pipet tetes kemudian diamati dibawah mikroskop.
4. Metode Kato

  • Alat
  1. Selophane
  2. Gelas preparat
  3. Karton berlubang
  4. Soket bambu
  5. Kawat saring
  6. Kertas minyak
  • Bahan
  1. Bahan yang di gunakan adalah larutan untuk memulas selophane terdiri dari 100 bagian aquades (6%), 100 bagian gliserin, 1 bagian melachite green 3% dan tinja 30mg.
  • Cara kerja
  1. Sebelum pemakaian, pita selophane di masukkan ke dalam larutan melachite green selam kurang lebih 24 jam.
  2. Di atas kertas minyak, di taruh tinja sebesar butir kacang, selanjutnya di atas tinja tersebut di tumpangi dengan kawat saringan dan ditekan-tekan sehingga di dapatkan tinja yang kasar tertinggal di bawah kawat dan tinja yang halus keluar di atas penyaring.
  3. Dengan lidi, tinja yang sudah halus tersebut di ambil di atas kawat penyaring kurang lebih 30mg, dengan menggunakan cetakan karton yang berlubang di taruh gelas preparat yang bersih.
  4. Selanjutnya ditutup dengan pita selophane dengan meratakan tinja di seluruh permukaan pita sampai sama tebal, dengan bantuan gelas preparat yang lain.
  5. Di biarkan dengan temperatur kamar selama 30-60 menit supaya menjadi transparan.
  6. Seluruh permukaan di periksa dengan menghitung jumlah semua telur yang ditemukan dengan perbesaran lemah.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Nama Metode
Cacing Natif Apung H. Mori Kato
Ascaris lumbricoides - - - -
Trichuris trichiura - - - -
Cacing tambang - - - -
Cacing pita - - - -
Ancylostoma duodenale - - - -
Necator americanus - - - -
Strongyloides stercoralis - - - -
Dari percobaan yang kami lakukan, hasil dari semua percobaan negatif.
Pada teknik Kato tidak di lakukan percobaan, tetapi hanya melakukan perhitungan jumlah telur berdasarkan pengandaian pada penemuan sejumlah telur cacing dalam tinja yang ditulis hasil pengamatan.
Diketahui : Ascaris lumbricoides
Berat feces adalah 0,5 mg dalam lubang karton, jumlah telur dalam 0,5 mg feces adalah 60 butir. Digunakan feces anak-anak dan feces dewasa, berat feces yang dikeluarkan anak-anak adalah 100 gram/hari dan berat feces yang dikeluarkan orang dewasa adalah 150 gram/hari.
Ditanyakan :

  1. Jumlah telur keseluruhan pada feses anak-anak dan dewasa
  2. Jumlah cacing pada anak-anak dan dewasa
Jawab:

Jadi, jumlah telur yang ditemukan pada feces anak-anak adalah 12000000 butir dan jumlah cacingannya 60 ekor. Pada orang dewasa jumlah telur yang ditemukan adalah 18000000 dan jumlah cacingnya adalah 90 ekor.
B.PEMBAHASAN
Identifikasi parasit tergantung dari persiapan bahan yang baik untuk memeriksa dengan mikroskop, baik dalam keadaan hidup maupun sebagai sediaan yang telah dipulas. Hal yang menguntungkan adalah untuk mengetahui kira-kira ukuran dari bermacam-macam parasit tetapi perbedaan individual tidak memungkinkan membedakan spesies hanya dengan melihat besarnya. Tinja sebagai bahan pemeriksa harus dikumpulkan didalam suatu tempat yang bersih dan kering bebas dari urine. Identifikasi terhadap kebanyakan telur cacing dapat dilakukan dalam beberapa hari setelah tinja dikeluarkan. (Kurt, 1999)
Hasil pemeriksaan tinja yang telah dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori dan metode kato menunjukkan hasil yang negatif yang artinya bahwa tidak ditemukan telur ataupun larva dalam tinja yang telah diperiksa. Hasil negatif pada semua metode yang dilaksanakan dapat disebabkan antara lain:

  1. Sampel atau feces diperoleh dari orang yang dehat (tidak terinfeksi cacing parasit usus)
  2. Kurang ketelitian dan kecerobohan praktikan dalam melakukan praktikum. Misalnya pada metode natif pada saat menusuk-menusukkan lidi bambu pada feces telur yang terdapat pada feces tidak menempel pada lidi. Pada metode apung, pada saat larutan feces didiamkan pada tabung reaksi, tabung reaksi goyang sehingga telur yang sudah terapung mengendap lagi.
  3. Kurangnya pemahaman praktikan pada bentuk morfologi telur cacing parasit maupun larvanya.
  4. Praktikan kurang paham tentang urutan kerja pada masing-masing metode.
  5. Pada saat diambil fecesnya, cacing belum bertelur sehingga tidak ditemukkan telur pada feces.
Pemeriksaan feces pada dasrnya dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan secara kualitatif dan pemeriksaan secara kuantitatif. Pemeriksaan feces secara kualitatif, yaitu pemeriksaan yang didasarkan pada ditemukkan telur pada masing-masing metode pemeriksaan tanpa dihitung jumlahnya. Pemeriksaan feces secara kuantitatif yaitu pemeriksaan feces yang didasarkan pada penemuan telur pada tiap gram feces.(Gandahusada,2000)
Telur fertile bentuknya yaitu, telur oval lebar, mempunyai tiga lapis dinding yang terluar bergerigi, terdapat rongga udara. Telur infertile bentuknya yaitu, telur lebih besar daripada yang fertile, dengan ovum yang atrofi, tidak terdapat rongga udara.
Metode yang digunakan pada pemeriksaan feces masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan masing-masing metode antara lain:

  1. Metode natif : Murah, mudah dan cepat.
  2. Metode apung : Baik untuk semua jenis telur baik untuk infeksi berat dan ringan. Telur yang ditemukan terpisah dari kotoran.
  3. Metode harada mori : Baik sekali untuk melihat infeksi cacing tambang dimana larvanya jauh lebih besar dari telurnya.
  4. Metode kato : Bila digunakkan dalam penelitian lapangan tidak membutuhkan cover glass, cover glass bisa diganti dengan cellophane tape, lebih murah. Dengan teknik lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakkan lebih banyak tinja. Teknik ini disa digunakkan untuk pemeriksaan tinja secara masal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosis.
Kelebihan masing-masing metode yang digunakan antara lain:

  1. Metode natif : Sedikitnya feces yang digunakkan untuk infeksi ringan hanya untuk pemeriksaan infeksi berat.
  2. Metode apung : membutuhkan waktu lebih lama, pada waktu pengambilan telur, telur yang mengapung tidak terambil. Pada waktu menunggu baki atau tabung reaksi tersenggol sehingga tidak mengapung dan hasilnya negatif.
  3. Metode harada mori : Membutuhkan waktu dan alat yang lebih lama.
  4. Metode kato : Pada metode kato kuantitatif, karena banyak telur yang dihitung bisa menyebabkan jumlah telur pada feces hasilnya tidak akurat.
Pemeriksaan dengan metode natif, slide dengan pewarnaan permanen untuk bentuk tropozoid harus dipersiapkan sebelum pemekatan. Slide dengan pewarnaan tambahan untuk melihat kista dan ovum dapat dibuat dari hasil pemekatan tersebut. Dalam banyak keadaan, khususnya dalam membedakkan Entamoeba histolytica dengan jenis amoeba lainnya, identifikasi sebagai tindakkan sementara. Sediaan apus dengan pewarnaan permanen memungkinkan penelitian terhadap detail selular.
Teknik Flotasi pada metode apung untuk konsentrasi kista dan telur berdasarkan perbedaan berat jenis antara larutan kimia tertentu (1120 sampai 1210) dan telur larva cacing serta kista protozoa (1050 sampai 1150). Terutama yang dipakai adalah larutan gula, NaCl atau ZnSO4. Telur dan Kista mengapumg dipermukkaan larutan yang lebih berat, sedangkan tinja tenggelam perlahan-lahan ke dasar. Flotasi lebih baik dari pada sedimentasi pada pembuatan konsentrasi kista dan telur, kecuali telur beroperkulum, telur Schistoma dan telur Ascaris yang tidak dibuahi. Flotasi ZnSO4 biasanya sering dipergunakkan dan lebih baik dari flotasi gula, NaCl atau larutan garam jenuh (Brine).
Cara pengapungan feces dicampur dengan larutan garam denagn berat jenis 1200 gram/cc, sehingga telur cacing dan kista akan mengapung ke permukaan kemudian diambil sebagai bahan pemeriksaan. Larutan dengan berat jenis 1200 gram/cc ini telur cacing Necator americanus, Ancylostoma dupdenale, Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura tidak mengalami kerusakan, tetapi larva dari Schistosoma sp, Strongyodes sp, Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan kista protozoa menjadi sangat menciut. Sebaliknya, telur Opisthorchis sp dan Clonorchis sinensis berat jenisnya lebih besar dari 1200 gram/cc sehingga mengendap.
Cara menghitung telur pada pemeriksaan dengan metode kato kuantitatif. Penyelidikkan mengenai penduduk yang terkena infeksi, diharapkan dapat menentukkan berat infeksi dengan mendapatkan jumlah telur yang diperkirakan. Telur yang dikeluarkan setiap harinya berbeda-beda, maka diperlukan perhitungan atas beberapa bahan, terdapat siklus dalam pembentukan telur, pengaruh dari kepadatan tinja, makanan, pencernaan yang salah dan faktor-faktor lain yang diketahui, dan pengeluaran telur tiap cacing mungkin berbeda untuk hospes yang berbeda. Jumlah telur yang dikeluarkan tiap harinya lebih dapat dipercaya dari pada jumlah telur dalam tiap gram tinja. Menghitung jumlah telur sebelum pengobatan dapat menentukan pengobatan yang diperlukan dan menghitung jumlahnya setelah pengobatan dapatmenentukkan hasilnya. (Brown, 1969)
Empat kriteria untuk infeksi oleh cacing parasit (Darwin Karyadi):

  • Infeksi sangat ringan : 1-9 (15-149 butir telur)
  • Infeksi ringan : 10-24 (150-375 butir telur)
  • Infeksi sedang : 25-49 (375-749 butir telur)
  • Infeksi berat : > 50 (750 butir telur lebih)
Pemeriksaan kuantitatif Kato yang dilakukan hanya berdasarkan perkiraan yang ditentukkan praktikan. Perhitungan yang dilakukan didapatkan hasil yaitu:

  • Infeksi pada orang dewasa termasuk infeksi ringan dengan 90 telur yang ditemukkan pada 0,5 gram tinja.
  • Infeksi pada anak-anak termasuk infeksi ringan dengan 60 butir telur pada 0,5 tinja.
Infeksi oleh parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Diagnosis yang berdasarkan gejala klinik saja kurang dapat dipastikkan, segingga harus dengan bantuan pemeriksaan labolatorium. Bahan yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasit, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang diperiksa adalah tinja. Identifikasi terhadap kebanyakkan telur cacing dapat dilakukan dalam bebrapa hari setelah tinja dikeluarkan.
V.KESIMPULAN DAN SARAN
A.KESIMPULAN

  1. Pemeriksaan dengan metode natif, metode apung dan metode kato (kualitatif) adalah mengatui infeksi cacing parasit pada orang yang diperiksa.
  2. Pemeriksaan kuantitatif dengan metode kato bertujuan untuk menentukan jumlah telur yang terdapat dalam tinja yang diperiksa.
  3. Pemeriksaan dengan metode harada mori bertujuan untuk menentukkan dan mengidentifikasi larva infektif dari cacing tambang dan mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus.
  4. Hasil yang didapat dari pemeriksaan adalah negatif yang artinya bahwa tidak ditemukkan telur dalam tinja yang diperiksa.
B.SARAN

  1. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit parasit agar masyarakat dapat terhindar dari zoonosis
  1. Membuang faeces pada tempatnya, untuk mencegah terjadinya infeksi cacing parasit usus.
  2. Menghindari makanan, air, tanah yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung telur atau larva parasit
  3. Menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal agat terhindar dari infeksi parasit.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, H. W. 1969. Dasar Parasitologi Klinis. Gramedia, Jakarta.

Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Menengah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. Citra Aditya Bakti,

Bandung.

Gandahusada,S.W .Pribadi dan D.I. Heryy.2000. Parasitologi Kedokteran.Fakultas kedokteran UI, Jakarta.

Kadarsan,S. Binatang Parasit. Lembaga Biologi Nasional-LIPI, Bogor.

Kurt. 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 2. Penerbit Buku

Kedokteran EGC, jakarta

Neva, F.A. and H.W.Brown. 1994. Basic Clinical Parasitology. Appleton and

Lange, New York.

Noble, R.N. 1961. An Illustrated Laboratory Manual of parasitology. Burgess publishing, Minnesota.

Tierney, L. M., S. J. McPhee, M. A. Papadakis. 2002. Current Medical Diagnosis

and Treatment. Mc Graw Hill Company, New York.

Related Sites

Power Point nemathelminthes - SlideShare

Power Point nemathelminthes - SlideShare: Power Point nemathelminthes Presentation Transcript. Raafi Sabirul Iman Dina Elyani (115040051 ...

Sources : http://www.slideshare.net/immariandra/power-point-nemathelminthes

Informasi Berbagai Hal: INFEKSI DIPYLIDIUM CANINUM PADA ...

Informasi Berbagai Hal: INFEKSI DIPYLIDIUM CANINUM PADA ...: infeksi dipylidium caninum pada anjing dengan ctenocephalides canis sebagai vektor

Sources : http://cahyadiblogsan.blogspot.com/2012/02/infeksi-dipylidium-caninum-pada-anjing.html

si keju: Makalah Askeb Patologi Sistem Pencernaan

si keju: Makalah Askeb Patologi Sistem Pencernaan: Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb Neonatus dengan dosen pembimbing Rachmawati Ika S. S.ST, M.Kes ...

Sources : http://sichesse.blogspot.com/2012/04/makalah-askeb-patologi-sistem.html

Faraht Lala

Faraht Lala: Spraying atau penyemprotan adalah salah satu cara pengendalaian nyamuk dengan menggunakan alat semprot berupa knapsack sprayer atau hand sprayer dan mist blower ...

Sources : http://tralalaikrima.blogspot.com/

2009 Februari « BIOLOGI ONLINE

2009 Februari « BIOLOGI ONLINE: SIMBIOSIS FUNGI ENDOFIT DENGAN INANG. Sebagian besar mikroorganisme pada tingkat tertentu dalam hidupnya dipengaruhi oleh kegiatan mikroorganisme lain.

Sources : http://zaifbio.wordpress.com/2009/02/page/2/

Laporan Praktikum Parasitologi Pemeriksaan Feses Responses

Leave a Reply