PERILAKU MASTURBASI DAN HUBUNGAN SEKSUAL
SETELAH MENONTON VCD PORNO PADA MAHASISWA KOS
DI KELURAHAN GRENDENG PURWOKERTO

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pubertas merupakan masa perkembangan fisik yang cepat ketika reproduksi seksual pertama kali terjadi. Dengan kata lain ini merupakan pertama kali seorang laki-laki secara fisik mampu menghamili seorang perempuan dan seorang perempuan secara fisik sanggup mengandung dan melahirkan bayi. Masa remaja dapat diartikan sebagai perubahan emosi dan perubahan social pada masa remaja. Masa remaja biasanya terjadi sekitar dua tahun setelah masa pubertas, menggambarkan dampak perubahan fisik, dan pengalaman emosional yang mendalam. Perempuan dan laki-laki menjadi matang, tanggung jawab mereka meningkat, dan harapan tentang dirinya berkembang lebih besar, baik itu diukur dari dirinya maupun dari orang lain. Pada saat yang sama, perubahan social memainkan peran utama dalam masa remaja, sebagaimana aktifitas laki-laki dan perempuan menjadi lebih bervariasi dan individual. Pada masa inilah para remaja memiliki gejolak seksual yang meningkat. (Masland, dkk. 2006).
Masalah seks sendiri di Indonesia masih merupakan hal yang tabu untuk diperbincangkan, karena masalah ini merupakan masalah yang sensitive dan bersifat individual. Bagi para orang tua dan guru seringkali merasa tidak enak dengan pendidikan seks, karena mereka yakin bahwa anak-anak muda akan jadi aktif setelah memperoleh informasi mengenai seks. Apabila aktifitas seksual terjadi, orang tua atau guru mungkin merasa bertanggung jawab atau merasa bersalah. Padahal remaja sangat membutuhkan bimbingan dan nasehat mengenai seks.
Remaja yang sulit atau tidak mendapatkan bimbingan seks secara tepat, melalui orang tua atau guru, cenderung lebih mencari informasi sendiri. Informasi ini pada remaja bisa di dapat dengan cara mencari di internet, majalah-majalah porno, ataupun dengan melihat vcd porno. Hal inilah yang akan menyebabkan remaja akhirnya melakukan hubungan seksual.
Kadang-kadang dorongan seks pada remaja, keasyikan mereka dengan pikiran-pikiran dan birahi seksual, dihubungkan dengan pengaruh dari jumlah hormone yang berlebihan. Dorongan seks tiap orang tidak sama. Beberapa orang bisa saja lebih menikmati aktifitas seksual disbanding yang lain. Biasanya remaja mudah sekali untuk dipengaruhi. Remaja dengan situasi dan kondisi yang mendukung, maupun tempat tinggal atau kos yang mendukung maka cenderung terpengaruh untuk melakukan hubungan seksual, setelah menonton vcd porno atau majalah-majalah porno. Karena dalam hal ini, control orang tua dalam membimbing anaknya sangat kurang.
Seperti yang kita ketahui banyak sekali hubungan seks diluar nikah yang menimbulkan berbagai permasalahan, tapi masih banyak saja para remaja ataupun mahasiswa yang melakukan hubungan seksual di luar nikah. Masalah remaja yang berperilaku seksual antara lain adalah cerai, kehamilan diluar nikah, penyakit-penyakit infeksi menular seksual, aborsi melalui pelayanan kesehatan yang tidak sesuai seperti dukun, dan juga bisa saja berakibat pada kematian.
Dampak dari menonton vcd porno sendiri sangatlah besar. Banyak para remaja atau mahasiswa yang dengan sengaja melakukan masturbasi Karena tergoda oleh tontonan dalam vcd porno terbsebut atau bahkan melakukan hubungan seksual itu sendiri. Adapun perubahan perilaku seksual pada remaja khususnya mahasiswa sendiri, antara lain

  1. Merupakan hasil percontohan, mahasiswa mencontoh apa yang sudah di tayangkan dalam vcd porno tersebut.
  2. Adanya anggapan bahwa informasi mengenai seks hanya diperuntukkan untuk orang dewasa saja, sehingga remaja hanya mendapatkan informasi seksual secara terpotong-potong atau tidak utuh. Inilah yang menyebabkan banyak mahasiswa yang melakukan masturbasi ataupun hubungan seksual.
  3. Diperbolehkannya melakukan hubungan seksual pranikah sebagai ‘gugatan’ yang disebabkan konsumenisme global yang makin meluas.
Masalah perlaku masturbasi dan hubungan sseksual sendiri merupakkan hal yang bertentangan dengan nilai social, nilai budaya, dan nilai agama. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti perilaku masturbasi dan hubungan seksual setelah menonton vcd porno pada mahasiswa kos ini.

B. PERUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang sudah dijelaskan diatas maka dapat di rumuskan permasalahan, yaitu bagaimana perilaku masturbasi dan hubungan seksual setelah menonton vcd porno pada mahasiswa kos di Kelurahan Grendeng?.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini ada dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

  • Tujuan umum
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku masturbasi dan hubungan seksual setelah menonton vcd porno pada mahasiswa kos di Kelurahan Grendeng Purwokerto.

  • Tujuan khusus
Tujuan khusus dilaksanakannya penelitian ini adalah

  1. Mengetahui persepsi mahasiswa kos terhadap tontonan vcd porno di Kelurahan Grendeng.
  2. Mengetahui pengetahuan mahasiswa kos terhadap vcd porno.
  3. Mengetahui perilaku mahasiswa kos di Kelurahan Grendeng setelah menonton vcd porno.

D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Dapat memberikan pengetahuan bahwa menonton vcd porno dapat mengakibatkan perilaku masturbasi dan hubungan seksual.
  2. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai salah satu informasi penting tentang bahaya serta akibat dari menonton vcd porno.
  3. Sebagai salah satu sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak ataupun lembaga yang terkait.
  4. Memberikan kontribusi teoritis dalam perkembangan teori kesehatan masyarakat, terutama pada perilaku kesehatan dan dapat menjadi bahan referensi selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Angka atau prosentase tentang perilaku seks mahasiswa sudah sering kali mencengangkan. Angka-angka itu sudah cukup membuat banyak pihak kebakaran jenggot, seperti penelitian Iip Wijayanto yang kemudian memicu kontroversi sengit, bahkan cenderung tidak sehat, mengancam kebebasan ilmiah dalam dunia penelitian. Dengan asumsi bahwa realitas freesex di kalangan terpelajar (mahasiswa) memang tidak dapat dipungkiri keberadaaannya, yang selama ini dipandang luhur: dunia pendidikan, dunia mahasiswa yang mewakili idealisme dan keberpihakan terhadap nilai-nilai luhur kebenaran dan moral. (Muttaqin, Husnul. 2002).
Dunia mahasiswa memang memiliki dinamikanya sendiri. Dunia yang mewakili kritisisme dan aktifisme sosial ternyata menyimpan sisi gelap yang benar-benar suram. Kritisisme yang begitu hidup menghadapi ketidakadilan, kesewanangan atau eksploitasi terhadap manusia dan kemanusiaan, ketika berhadapan dengan hingar-bingarnya kehidupan seksual seolah-olah mati tanpa daya, terkena serangan “impotensi” serius. Barang kali dalam pandangan mereka kehidupan seksual memang tidak membutuhkan sikap kritis. Daya juang mahasiswa sebagai pejuang hak asasi manusia tidak lagi diuji di ruang interogasi markas Kodim atau Polres, tapi di plaza, café, diskotek, atau kamar kos yang kerap menjadi tempat paling kondusif bagi ekspresi seksualitas bebas bersama pasangannya. (Muttaqin, Husnul. 2002).

A. Mahasiswa Kos

Menurut kamus besar bahasa Indonesia mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, sedangkan kos adalah tinggal di rumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan) atau tempat sementara untuk menginap dengan membayar dalam periode waktu yang telah ditentukan. Jadi yang dimaksud mahasiswa kos disini adalah orang beelajar di perguruan tinggi dan tinggal di rumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan) atau tinggal di rumah orang lain dengan atau tanpa makan (dengan membayar setiap bulan bertempat tinggal sementara dengan membayar dalam periode waktu yang ditentukan. Mahasiswa kos terbagi dua, yaitu kos dengan induk semang (pemilik kos-kosan) dan kos tanpa induk semang.

B. Vcd Porno

Dewasa ini, menikah dalam usia dini dianggap bermasalah. Karenanya bertambahnya kesenjangan bio sosial banyak dipuja-puji, terutama oleh para penganjur program Keluarga Berencana. Sementara di sisi lain, rangsangan-rangsangan seks bertambah semarak, semakin bertubi-tubi. Hampir tiada hari tanpa rangsangan seksual dari berbagai media: koran, majalah, tabloid, internet, VCD/DVD porno, ponsel dan sebagainya. Komersialisasi seks meraja lela. Para mahasiswa dan remaja menghadapi godaan serius. Film, musik, radio, bacaan, TV, internet, VCD porno mengajarkan bahwa seks itu indah, romantis, merangsang, menggairahkan serta menjanjikan kenikmatan tiada tara. Maka runtuhlah daya tahan mereka. Perilaku seks bebas merebak, bahkan seolah menjadi gaya hidup baru. Damikianlah salah satu sisi gelap kehidupan mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi kekuatan moran masyarakat. Sangat ironis memang. (Muttaqin, Husnul. 2002).
Vcd porno adalah kepingan disk yang berisi adegan atau film porno. Dengan menonton vcd porno ini tidak ada yang tidak mungkin bahwa setelah menonton vcd tersebut timbul rangsangan dan gairah yang menaikkan libido sehingga menimbulkan seseorang untuk melakukan perilaku masturbasi ataupun hubungan seksual.

C. Persepsi

Tampaknya, persepsi masyarakat terhadap seks telah banyak berubah. Dahulu, dimensi prokreasi (seks sebagai sarana untuk melanjutkan keturunan) dipandang sebagai fungsi utama seks, sehingga harus diwadahi dalam perkawinan. Kini, fungsi rekreatiflah yang ditonjolkan sehingga untuk memperoleh kenikmatan seks seseorang tidak harus menikah terlebih dahulu. Ia dapat mengakses kenikmatan seksual dengan pacar atau menggunakan jasa para pelacur. Bahkan seks tidak jarang dipandang sebagai cara ampuh untuk membina relasi bisnis atau sekedar persahabatan. (Muttaqin, Husnul. 2002).

D. Perilaku Masturbasi dan Hubungan Seksual

  • Masturbasi
Masturbasi adalah stimulasi organ genital (seks), biasanya dengan tangan, tanpa melakukan hubungan intim. Bagi laki-laki, masturbasi adalah merangsang penis dengan mengusap atau menggosok-gosoknya. Sedangkan perempuan, masturbasi biasanya termasuk mengusap-usap dan menggesek-gesek daerah kemaluan, terutama klitoris dan vagina. Masturbasi digolongkan ke dalam kegiatan memuaskan diri sendiri, tetapi kadang-kadang dapat pula terjadi dengan satu pasangan akan merangsang alat kelamin lawan jenisnya untuk mencapai orgasme. Masturbasi bagi laki-laki dan perempuan kadang-kadang dinamakan ‘bermain dengan diri sendiri’. (Masland, dkk. 2006).

  • Aktifitas seksual
Sebagian besar orang mengartikan seks adalah hubungAktifitas seksual adalah tindakan fisik atau mental yang menstimulus, merangsang, dan memuaskan secara jasmaniah. N intim. Sebenarnya tidak begitu, seks adalah segala bentuk perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau libido seks. Ada dua perilaku seks, yaitu

  1. Seks yang dilakukan dengan diri sendiri misalnya nonton vcd porno, bervantasi seksual, onani/baca komik yang mengandung unsur porno.
  2. Seks yang dilakukan dengan orang lain misalnya berhubungan seksual/senggama.
Tindakan itu dilakukan sebagai cara yang penting bagi seseorang untuk mengekspresikan perasaan dan daya tarik kepada orang lain. (Didik Hermawan. 2004).

  1. KNPI (Kissing, Necking, Petting, Intercourse)
KNPI adalah kependekan dari kissing, necking, petting dan intercourse. Kissing adalah satu perilaku seks yang sekarang ini sudah membudaya dan mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan yang dilakukan bukan lagi cium pipi/kening melainkan bibir. Necking adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan ciuman dan pelukan yang lebih mendalam, dan biasa dilakukan pada leher. Petting adalah langkah yang lebih mendalam dari necking, yaitu merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangan, termasuk lengan, dada, buah dada, kaki, dan kadang-kadang daerah kemaluan baik diluar maupun didalam pakaian. Sedangkan intercourse adalah perilaku seks pada tahap hubungan badan atau senggama. (Didik Hermawan. 2004).
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis, menurut Mu’tadin, 2002: 2 pada www.mitrariset.co.cc dengan judul Perilaku Seksual Remaja yang diakses tanggal 14 Juni 2009. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.
Imran (2002: 28-29) pada www.mitrariset.co.cc dengan judul Perilaku Seksual Remaja yang diakses tanggal 14 Juni 2009 menjelaskan beberapa bentuk perilaku seksual remaja meliputi : berfantasi atau mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme, berpegangan tangan, ciuman kering atau bersentuhan pipi dengan pipi/bibir, ciuman basah (bibir dengan bibir), meraba bagian-bagian sensitif seperti leher, payudara, paha, vagina, penis, dan pantat, berpelukan, masturbasi (perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual), oral seks (memasukkan alat kelamin ke mulut lawan jenis), petting (menempelkan alat kelamin), dan bersenggama.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. KERANGKA PIKIR

Kebiasaan para mahasiswa kos menonton vcd porno dapat berpengaruh terhadap perilaku masturbasi dan hubungan seksual sebelum menikah, sehingga dapat diketahui bagaimana dampak dan cara mengatasi perilaku masturbasi dan hubungan seksual yang terjadi akibat menonton vcd porno tersebut.

A. JENIS DAN METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan cara menggambarkan apa yang sudah diteliti oleh peneliti untuk memperoleh hasil penelitiannya. Gambaran seperti apa yang didapat dalam penelitian ini, perilaku atau kebiasaan apa yang ada pada mahasiswa kos setelah menonton vcd porno. Dan juga dengan melakukan metode ini, peneliti dapat menggambarkan bagaimana persepsi dan pengetahuan mahasiswa setelah menonton vcd porno serta menggambarkan dampak dari perilaku masturbasi dan hubungan seksual.
Menurut Moleong (2004), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi dan tindakan, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Tujuan dari penelitian ini, adalah memahami fenomena sosial melalui gambaran holistik dan memperbanyak pemahaman mendalam.
Penelitian ini, peneliti secara aktif berinteraksi secara pribadi. Proses pengumpulan data dapat diubah dan hal itu bergantung pada situasi. Peneliti bebas menggunakan intuisi dan dapat memutuskan bagaimana merumuskan pertanyaan atau bagaimana melakukan pengamatan. Individu yang diteliti dapat diberi kesempatan agar secara sukarela mengajukan gagasan dan persepsinya dan malah berpartisipasi dalam analisis data.
Pertimbangan menggunakan metode ini adalah:

  1. Lebih mudah menyesuaikan apabila berhadapan dengan kenyataan
  2. Menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dengan subjek
  3. Lebih sensitif dan adaptif terhadap peran dan berbagai pengaruh yang timbul (Moleong, 2000).

B. SUBJEK PENELITIAN

Subjek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah mahasiswa kos yang pernah menonton vcd porno dan pernah/tidak pernah melakukan masturbasi ataupun berhubungan seksual yang bertempat tinggal (kos) di Kelurahan Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.

C. LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Grendeng Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.

D. SUMBER DATA

Sumber data yang diperoleh ada dua, yaitu

  1. Sumber data primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari informan melalui observasi maupun wawancara.
  2. Sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang dapat mendukung data primer ataupun berupa data pendukung penelitian yang bersumber dari literature, jurnal ilmiah, dan catatan yang menunjang pada masalah kesehatan.

E. CARA PENGUMPULAN DATA

  • Wawancara mendalam (indepth interview)
Wawancara merupakan salah satu tekhnik penelitian kualitatif yang memungkinkan adanya diskusi antar pribadi. Sedangkan wawancara mendalam merupakan interaksi antara dua orang. Dari wawancara mendalam ini dapat digunakan untuk mendapatkan informasi, baik verbal maupun non verbal, mengenai sikap, keinginan, cita-cita, nilai, pengetahuan dan kepercayaan yang menjadi target penelitian tentang perilaku masturbasi dan hubungan seksual pada mahasiswa kos ini.
Metode wawancara atau metode interview, mencakup cara yang yang dipergunakan kalau seseorang, untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lesan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang itu (Koentajaraningrat, 1983 :129).

  • Observasi (participant observation as observer)
Observasi merupakan cara peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk hasil penelitian yang akan dilaksanakannya dengan cara melihat dan mengamati apa saja yang dilakukan oleh subjek penelitian sehingga peneliti mendapatkan informasi ataupun data yang dibutuhkan.
Metode observasi ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap subyek yang diteliti dalam kurun waktu yang cukup lama. Observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan dan pengecap (Arikunto, 1997:128). Teknik observasi menurut Arikunto, adalah kegiatan yang pemusatan perhatian terhadap suatu objek menggunakan seluruh alat indera (Arikunto, 1993:145).
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan data secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala pada objek penelitian dengan melihat pedoman sebagai instrumen pengamatan yang ditujukan kepada mahasiswa terkait kepada metode wawancara.

  • Analisis dokumen
Merupakan cara yang dilakukan peneliti dengan meneliti dan menganalisis dokumen-dokumen yang ada maupun arsip-arsip yang dapat mendukung penelitiannya. Analisis dokumen tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara maupun observasi. Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 1997 : 236). Sedangkan menurut Arikunto metode dokumentasi yaitu cara pengambilan data menggunakan barang-barang tertulis, buku-buku, majalah, dokumen peraturan, notulen rapat, catatan harian yang harian yang berhubungan dengan masalah penilitian (Suharsimi, 1996:77).
Dalam alat dan teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Peneliti menggunakanketiga metode ini karena cukup relevan dalam pengumpulan data.

F. ANALISIS DATA

Analisis data pada penelitian ini secara kualitatif dengan model analisa interaktif. Menurut Milles Huberman (1999:20) tahap analisis data adalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan data
Peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan.
2. Reduksi Data
Reduksi data yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan focus peneliti. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data-data yang di reduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencari sewaktu-waktu diperlukan.
3. Penyajian Data.
Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data merupakan analisis dalam bentuk matrik, network, cart atau grafis sehingga peneliti dapat menguasai data.
4. Pengambilan Kesimpulan atau Verifikasi
Peneliti berusaha mencari pola, model, tema, hubungan, poersamaan, hal-hal yang sering muncul, hipotesis dan sebagainya, jadi dari data tersebut peneliti mencoba mengambil kesimpulan. Verifikasi dapat dilakukan dengan keputusan, didasarkan pada reduksi data, dan penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian. Keempatnya dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Komponen-komponen analisa data: Model Interaktif (Miles dan Huberman, 1992).
Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Pertama-tama peneliti melakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data, selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Apabila ketiga hal tersebut dilakukan, maka diambil suatu keputusan atau verifikasi.

A. VALIDITAS DAN RELIABILITAS DATA

Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditkankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah valid reliabel dan objektif. Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti dengan demokian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antar data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian (Sugiyono, 2005:117).
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002 : 178). Dibedakan atas empat macam teknik triangulasi, yaitu:

  • Triangulasi sumber
Triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.

  • Triangulasi metode
Triangulasi metode, yaitu dengan menggunakan dua strategi yaitu pengecekan terhadap derajat kepercayaan penemuan hasil beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.

  • Triangulasi penyelidik
Triangulasi penyelidik, yaitu dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekkan kembali derajat kepercayaan data. Cara lainnya adalah dengan membandingkan hasil pekerjaan seorang analis dengan analis lain.

  • Triangulasi teori
Triangulasi teori, yaitu melakukan penelitian tentang tema yang sama dan datanya dianalisa dengan menggunakan beberapa perspektif teori yang berbeda.
Triangulasi yang dipakai dalah triangulasi dengan sumber yang membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton dalam Moleong , 2002 : 178).
Validitas data dalam penelitian ini menggunakan tekhnik triangulasi, yaitu

  1. Mencocokkan data dengan hasil wawancara.
  2. Mencocokkan apa yang dikatakan di depan umum dengan apa yang dikatakan di depan pribadi.
  3. Mencocokkan hasil pengamatan (observasi) dengan hasil wawancara.
  4. Mencocokkan keadaan dan perspektif orang yang satu (informan satu) dengan informan lain.
  5. Mencocokkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
  6. Mencocokkan hasil wawancara informan dengan orang terdekatnya/ahlinya.

B. JADWAL PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Rineka Cipta: Jakarta.
Didik Hermawan. 2004. Ngerupiin Sex yuk!. Smart media. Solo.
Koentjaraningrat.1998.Kebudayaan, Mentalitas Dan Pembangunan. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Masland, dkk. 2006. Apa yang ingin diketahui remaja tentang seks. Bumi aksara. Jakarta.
Miles, matheus B.A dan Hyberman, AM. 1992. Analisa data kualitatif. UI Press. Jakarta.
Moleong, Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Muttaqin, Husnul. 2002. Menyoal Kembali Budaya Seks Mahasiswa. Bolg pada WordPress.com.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta: Bandung.
www.mitrariset.co.cc. Perilaku Seksual Remaja. Diakses tanggal 14 Juni 2009.

PERILAKU MASTURBASI DAN HUBUNGAN SEKSUAL SETELAH MENONTON VCD PORNO PADA MAHASISWA KOS Responses

Leave a Reply